Friday, 2 May 2014

Arti Sebuah Nama

#fiktif belaka just have fun :D



Arti Sebuah Nama…

Pipi itulah namaku. Aneh ?, yah memang aneh, akupun merasakanya. Pipi bukan nama yang enak diucapkan sebagai nama panggilan untuk seorang wanita, Pipi lebih  cocok sebagai nama anggota tubuh. Aku pernah complain kepada orang tuaku atas namaku yang begitu rancu. Tetapi jawaban mereka hanya sederatan kata yang yang sangat basi menurut ku, sedangkan bagi mereka mengandung makna mendalam yang mampu mengubah segalanya “atas nama cinta”. Bagi mereka kata “pipi” yang sekarang menjadi namaku sangat bermakna.  Karena kata”pipi” merupakan perpaduan antara nama ayahku Pio dan ibuku Opi. Emang sih gabungan nama mereka Cuma berefek “pipi”, tapi hanya karenahal seperti itu mereka tega memberi nama anaknya dengan kata aneh tak bermakna itu. Padahal nama sangat penting, karena dapat mempengaruhi kepribadian, penampilan, dan aura kecantikan. Pantas saja aku hanya seorang Pipi yang belum pernah punya pacar selamatujuh belas tahun hidup di dunia.
Berbeda dengan teman sebangku ku Jelita. Ia selalu cantik jelita dimana pun ia berada. Percaya atau enggak hampir seluruh cowok di sekolah ku jatuh cinta padanya. Termasuk si blasteran Radit. Anehnya tak satupun diantara cowok-cowok keren itu mampu memikat hati jelita. Padahal setiap hari laci mejanya selalu penuh dengan puisi-puisi cinta yang menyanjung keindahan dirinya. Bahkan, tak jarang ada yang memberinya cincin berlian yang harganya “wah” banget. Tapi tetap aja dia gak tertarik, baginya cowok-cowok keren itu hanyalah selingan penghilang kejenuhan.
Piiooot!!!!....
Begitu mereka memanggilku, bagi mereka ketimbang “Pipi” yang bikin lidah pegal-pegal kalau mengucapkannya. Lebih baik Piot kata lucu yang membuat orang tertawa bila mendengarnya. Sebenarnya tak masalah bagi ku mereka memanggil ku dengan sebutan apa saja, tapi terkadang aku merasa risih bila melihat anak-anak kecil yang mendengar nama panggilanku. Mereka langsung lari ketakutan, katanya sih Pipiot itu nama seorang penyihir jahat dalam cerita negri dongeng yang selalu mengganggu tokoh-tokoh idola mereka. Lagi-lgi persoalan nama…
 Penah suatu hari sepulang sekolah, untuk pertama kalinya ada seorang cowok (walaupun gak ganteng-ganteng amat) menghampiriku.
“Sendiri aja?” ia  memulai pembicaraan, dan aku hanya membalasnya dengan senyuman.
“Mau kemana?” ia kembali bertanya.
“Pu..pulang.” jawabku gugup. Karena emangdeg-degan banget, jadilah sebuah obrolan panjang yang lumayan bagus untuk awal sebuah pendekatan. Setelah lama berbincang-bincang ia menyadari kalau kami belum berkenalan. Dengan tampang yang dirancang biar tampak imut , ia bertanya.
“By the way, bolehkah ku tau namamu ?”
“Namaku Pipi.” Jawabku tingan.
“Hah? Apa? Pipi?” ia mengulangi perkataan ku penuh tanya.
“Iyah Pipi, pe-ii-pe-ii”
“Huuuaaahahahahahhhhh…kenapa gak idung aja sekalian ?” ia tertawa mendengar namaku.
Tak lama kemuadian ia meninggalkan ku sambil tak henti-henti menertawakanku. Jangan-jangan ia ill feel mendengar namaku. Oh god !!, pantas saja aku belum pernah punya pacar. Bagaimana mau punya pacar mendengar namaku saja  mereka langsung tertawa, setelah itu pasti mereka berfikir aku adalah wanita paling aneh di dunia. Jangankan pacaran temenan aja ogah. Itu lah bukti betapa malangnya diriku hanya karena sebuah nama.
Makanya aku sempat berfikir bagaimana caranya mendapatkan seorang pacar tanpa harus mengubah takdirku yang mempunyai nama Pipi. Setelah seharian berfikir keras, aku mendapatkan ide bagus yang lumayan gila. Karena itu tanpa berfikir aku mengambil ponselku dan menggoyangkan jari jemariku.
Aku adalah milik mu…
Aku selalu bersama mu…
Aku ada dimana kamu ada…
Aku sangat dekat dengan ku…
Tapi kamu tak dapat melihatku…
Bila kau tau siapa namaku…
 Maka aku akan jadi pacar mu…
Sebuah teka-teki yang menunjukan dengan jelas siapa namaku. Aku yakin seorang cowok yang dapat menjawab teka-teki ku, bukan seorang cowok yang selalu berfikiran dangkal. Dan aku yakin pasti cowok it mau menerima ku tanpa peduli siapa namaku. Maka ku kirim teka-teki itu ke daftar nomor gak jelas hasil rekayasa ku. Setelah ku rasa pulsa ku mulai tiris, ku hentikan jari jemariku dan duduk santai di depan rumahku sambil menunggu respon dari nomor-nomor yang menjadi daftar dalam ide gilaku.
Hihihiiihihihiii….
Tak lama menunggu ponselku telah berdering nyaring. Dengan digelayuti rasa penasaran segera ku lirik siapa yang membuat ponsel tak henti mengeluarkan suara nyaringnya. Nomor tak dikenal, aku terkejut setengah mati setelah melihat semua pesan dalam inbox ponselku. Karena aku mendapat pesan dari seorang wanita yang cemburu mengetahui suaminya mendpat sms teka-tekiku.
Begitupun seterusnya hampir semua pesan singkat dalam inbox ponselku hanya berisikan sumpah serapah dan mengira aku seorang wanita nakal yang haus akan belaian seorang pria. Idih…amit-amit deh ! karena kejadian itu aku tak mau lagi mencari cowok dalam dunia maya. Dan sekarang aku hanya bisa pasrah dalam takdir hidup ku. Dari otak ku yang pas-pasan, penampilan ku yang gak menarik, sampai punya orang tua yang lebih aneh dari mr, Bean.



***** 


Pagi ini..
Seperti biasa aku dan Jelita sedang sibuk memphoto copy tgas teman ku Rasya. Karena sudah tak diragukan lagi semua tugas yang dikerjain dia pasti dapat nilai seratus. Karena itu pagi ini tak hanya ku dan Jelita yang sibuk memphoto copy tapi seluruh penghuni kelas XII IPA 1 sibuk memphoto copy tugasnya. Ya….bisa dibilang Rasya lah satu-satunya produsen dikelasku dan yang lainnya Cuma konsumen yang tinggal terima jadi.
“Selamat pagi.” Pasha memasuki ruang kelas.
Serentak kegiatan copy mengopy terpaksa harus dihentikan. Dengan mulut menganga pasrah aku menutup buku tulis ku. Soalnya Pasha alias pak Syamsul ini guru yang kler abis, siapapun yang melanggar aturannya bakalan habis-habisan sampe kapok. Suasana kelas pun ku rasakan semakin genting. Tak seorangpun berbisik, bergerak bahkanmengedip.
Namun, suana yang begitu rancu itu berakhir dengan suara histeris kaum hawa begitu melihat seorang pria membuntuti kehadiran Pasha. Charming! Mataku tak mampu untuk mengedip. Di a lebih keren dari si blasteran Radit, kulitnya putih, tinggi, wajahnya bukan cuma ngartis tapi bisa dibilang Nicolas sama Marchel mah lewat. Hingga Jelita yang biasanya selalu cuek dengan cowok sekeren apapun kini terdiam sambil terus memandangi pria itu.
“Pagi..” Sapanya lembut.
“Pagi….”
Pria itu tersenyum, terlihat olehku dua buah lesung pipit yang bersemayam diatas kedua pipinya.
“Anak-anak tolong dengerkan !” teriak Pasha membuyarkan lamunan ku. Otomatis seluruh penghuni kelas diam membisu.
“Bapak akan pergi ke Singapore untuk mewakili sekolah dalam pekan matematika, jadi pak Yayanglah yang akan menggantikan selama bapak pergi.”jelas Pasha sambil berlalu dari kelas. Aku dan Jelita saling tukar pandang seolah tak percaya cowok secharming dia itu guru pengganti. Ku lihat Jelita tampak kecewa dengan hal itu.
“Koq guru yach ?” gumam Jelita.
“Iya, padahalkan keren banget.”
Ku lihat teman-teman wanita ku mulai dari si Lina yang kacamatanya segede baskom sampai Jelita cewek cantik nan jelita, tak henti-henti memangdang sosok pria yang tengah berjalan menuju kursi guru itu.
“Sudah tau nama saya?” tanya pria itu.
“Belum…” teriak seluruh seluruh penghuni kelas XII IPA 1 bersamaan. Ia pun segera mengambil spidol dan menuliskan namanya diatas white board.


_Yayang Prasetyo_

“Kalian bisa panggil saya Yayang.”
“Owh…pak Yayang.” Jelas Jelita mencoba mengingat.
“Bukan bapak, cukup Yayang saja.” Jelasnya tersipu.
“Kenapa ? guru kok gak mau dipanggil bapak?” Selidik Ivant mendengar pernyataan pak Yayang yang sangat mencurigakan itu.
“Soalnya saya sama dengan kalian, sama-sama belajar.” Jelasnya singkat dengan senyum begitu menawan di wajanya.
“Emang umur pak Yayang eh…Ayang berapa?” tanya Jelita dengan suara selembut sutra, biasa jurus jitu seorang cewek untuk tebar pesona.
“Mmm…sembilan belas tahun,”jawabnya singkat malu-malu.
Hari ini aku dan teman-teman seperguruan ku terbebas dari pelajaran matematika yang bikin kepala muter ngalor-ngidul. Karena itu hati kecil ku beraterima kasih banget karena kehadiran guru charming itu, aku selmat dari hukuman Pasha karena belum ngerjain pr. Selain itu guru baru itu charming banget kayanya ini awal yang baik untuk ku memperbaiki nilai matematika ku yang selalu dapat nilai delapan nyengir itu. Tak lama berlalu bel pun berbunyi pertanda waktu yang ku nantikan telah tiba, walaupun tak ada satupun cowok yang ngelirik aku tapi kalau punya temen cewek cantik nan jelita, aku selalu kecepretan rezeki. Kalau gak ditraktir bakso super dasyat mak kantin, syomai goyang ngebor atau batagor balap karung.
Dan kali ini aku ditraktir bakso super pedas mak kantin dan segelas jus avocado, mm…… aku memakannya dengan lahap.
“Hallo..” seruku menanggapi ponselku yang tak henti berdering.
“…….”
“Siapa sih lo?” tanyaku sembari menahan rasa pedas di mulutku.
Nut….nut…nut…
“Sialan !” gerutuku sambil melanjutkan santap siangku.
“Ada apa sih ?” tanya Jelita menyadari kemarahanku.
“Nothing.”jawabku sambil terus menggenggam ponselku.
“Paling Cuma orang iseng.”


*****


Yayang prasetyo guru pengganti super charming itu bener-bener laris, baru kemarin masuk di kelas ku dan sekarang sudah menjadi buah bibir SMA Teratai Putih.  Bahkan bu Wiji yang sudah mengapdikan diri sebagai guru selama empat puluh tahunpun masih tetsp gencsr gosipin guru charming itu. Kalau aku boleh jujur akupun ngefens_kagum_ kepadanya Cuma aku harus tetap memenjarakan hatiku. Karena bisa dibilang tak ada cinta yang pantas untuk seorang macam aku. Dan aku tahu pasti akhirnya hati ku yang hancur lebur. Jika hati ku lolos dari penjara dan mencintai guru pengganti itu, aku tak akan mempunyai kekuatan untuk bersaing dengan cewek-cewek cantik macam Jelita.
“Itu kan guru baru itu..”
Fikirku melihat guru pengganti itu berjalan dengan cepat menujukelas ku, what??? KELAS KU????. Oh my god, aku lupa sekarang adalah hari keramat untuk kelasku, yaitu hari kamis karena dihari kamis pelajaran matematika mendapat jadwal paling awal. Segera aku kerahkan seluruh tenagaku untuk berlari melewati lorong dan sebuah kantin agar bisa secepat mungkin sampai di kelasku. Sejenak ku hentikan langkah mengatur nafas. Ku lirik keadaan di dalam kelas melalui celah-celah kecil kunci pada gagang pintu. Terlihat oleh ku mr. Charming memanggil nama mereka satu persatu. Ku pejamkan mataku dan ku tarik nafas dalam-dalam, dengan perasaan yang campur aduk aku membuka pintu.
Krekekh……(dagdigdug,dagdigdug,dagdigdug )
Semua mata tertuju pada ku termasuk mr. Charming itu, jantung ku berdetak semakin cepat, tubuhku bergetar dan perlahan ku rasakan butiran keringat dingin mengalir dengan deras diatas tubuhku.
“Silakan masuk !” perintahnya tanpa menatapku. Dengan perasaan tak menentu ku lenggangkan kaki ku menuju bangku kosong disebelah Jelita.
“Eh, mau kemana kamu?” tanya mr. Charming itu,
“Mm….mau duduk pak.”jawabku singkat.
“Siapa yang memsilahkan kamu untuk duduk ? sini dulu saya mau beri kamu hukuman.” Jelasnya sambil menghampiriku dan menarik lengan pendek baju seragamku. Entah mengapa aku sangat tak berdaya dan mengikuti perintahnya untuk berdiri di tengah pandangan teman-teman ku.
“Sebagai hukumannya kamu harus menyanyikan sebuah lagu.”  Jelasnya.
Dan tak dielakan lagi tawa ledekan teman-teman ku pun meledak dalam ruangan kelasku. Dengan sengaja ku tundukan pandanganku karena bisa dipastikan wajahku merah padam menahan malu.
“Eh mengapa kamu menunduk ?” tanya mr. Charming itu sambil menghentakan daguku ke atas dengan sebuah buku.
“Nama kamu siapa ?” tambahnya sambil terus memandangiku dengan pandangan pembunuh.
“Mm…m…mm…” aku ragu untuk mengucapkan kata menyebalkan itu, bila ku ucapkan aku yakin semuanya akan menjadi berantakan.
“Kok diem ? siapa nama kamu ?” ulangnya semakin geram.
“Pipi.” Jawab ku.
“Ada apa dengan pipi kamu ?”
“Nama saya Pipi, bukan ada sesuatu dengan pipi saya, PUAS!!!!” jelasku ketus, kini tak ku jamin mataku mampu menahan genangan air  di mataku.
“O…nama kamu Pipi.” Mr. Charming itu berputar-putar mengelilingiku sambil menutup kedua matanya seolah berusaha memikirkan sesuatu. MENYEBALKAN.
“Sekarang kamu tidak perlu menyanyi, tapi nanti usai pelajaran saya kamu harus ke ruangan saya dan kamu rapikan buku-buku yang berserakan disana.” Jelas mr. Charming itu dan berlalu menuju kursinya. Tanpa ragu lansung ku langkahkan kakiku menuju tempat duduk ku yang tak jauh dari tempat ku berdiri. Sejenak ku terhanyut dalam lamunanku, ku rasakan mr Charming itu tak terkejut mendengar namaku. Baru kali ini kata keramat itu tak berimbas sial untuk ku. Walaupun demikian tetap saja aku menderita mendapat nama aneh seperti itu.


***** 


Jelita makin aneh aja ! kerjaannya melamun mulu, senyam-senyum sendiri dan yang bikin aku tambah aneh nilai matematikanya yang biasanya bebek itu sekarang jadi angka enam jungkir balik. Keren kan ? sementara aku tak ada perubahan sama sekali, dari dulu delapan nyengir mulu. Padahal perkiraan ku kalau gurunya keren akan ningkatin semangat belajar tapi ternyata itu semua gak ngaruh. Selain itu Jelita juga jadi sensitif banget sama cowok. Dia gak pernah tersentum bila berpapasan dengan cowok, kecuali… yah, itu dia mr. Charming si guru pengganti itu. Ternyata diantara cowok-cowok keren yang bisa ngeluluhin hati Jelita cuma si Charming.
Setelah melalui puluhan menit di kelas mendengarkan ocehan mr. Charming itu, aku segera pergi menuju ruangannya.
Tok…tok…tok….
“Silahkan masuk.!”
Terdengar oleh ku suara berat seorang pria , dan aku yakin itu adalah suara si empunya ruangan.
“Bersih.”desahku mengamati ruangan itu. Ku lihat mr. Charming duduk disebuah kursi membelakangiku.
“Mana buku-buku yang berserakan ?” bisik ku dalam hati melihat buku-buku yang sudah tertata rapi. Si guru pengganti memutar kursinya menyadari kehadiran ku.
“Aku sudah tau jawabannya.”
“Ja…jawaban ?” aku tak mengerti.
 “Yach..nona teka-teki.”
“………..” aku tetap tak memahami maksud mr. Charming itu.
“Dan bila aku beri tahu jawaban itu, imbalannya masih tetap berlaku kan?” selidiknya.
Sementara aku berusaha membuka file-file yang berada dalam otak ku untuk mencoba mencerna perkataan mr charming itu.  Tak lama kemudian aku melihat ia mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya.
Aku adalah milik mu…
Aku selalu bersama mu…
Aku ada dimana kamu ada…
Aku sangat dekat dengan ku…
Tapi kamu tak dapat melihatku…
Bila kau tau siapa namaku…
 Maka aku akan jadi pacar mu…”

Deg, deg, deg_
Jantungku seakan berhenti berdetak, pesan singkat teka-teki ku itu sampai pada mr. Charming. Seketika mulut ku terasa begitu kelu tak mampu berbicara sedikitpun membayangkan betapa beratnya hukuman yang akan ku dapat.
“Jawaban dari teka-teki itu adalah nama kamu, Pipi.” Jelasnya.
Aku semakin tak berkutik, oh my god ! kenapa harus begini jadinya?. Sekujur tubuh ku kini mulai lemas.
“Berarti sekarang kamu jadi pacar ku.” Desahnya lembut seraya menghampiriku.
“Pa…pa…pacar ?” ulangku tak percaya.
“Koq bpk tau kalau yang kirim sms itu saya.” Tanya ku ragu.
“Soalnya Cuma kamu wanita yang namnya Pipi, sebenarnya saya sudah cari wanita yang namanya Pipi, tapi hasilnya nihil. Jadi saat kamu bilang nama kamu, saya langsung yakin amu adalah wanita dalam teka-teki itu.”
“Tap..”
“Jangan tanyakan caraku memecahkan teka-teki itu.” Sergahnya memotong kata-kata ku.
Ya ampun, aku punya pacar se charming itu, sungguh sulit untuk dipercaya. Ku kira sebuah hukuman double yang akan ku dapat, karena kecentilan ku menyebarkan teka-teki itu.
“Emang gak malu punya pacar namanya Pipi, kata aneh gak bermakna itu ?”
“Apalah arti sebuah nama.”jawabnya tegas.
Aku masih tejebak dalam kebahagian yang tak mampu ku mengerti, untuk membawa seluruh tubuhku pada kesadaran diri. Aku hanya memejamkan mataku, ku rasakan bibirnya menyentuh bibirku.
“KALIAN..?” teriak seorang wanita yang suaranya begitu lekat ditelingaku. Jelita memaku dalam keterkejutannya. Ia memasang wajah tak percaya dan tak berdaya. Sejenak memandang ia langsung berlari menjauh.
Sejenak mr. Charming menatapku dan begitupun aku menatap matanya lekat. Sungguh tak mampu ku bayangkan betapa hancur hati Jelita. Seorang pria yang mampu membuatnya merasakan cinta malah tertngkap basah bermesraan dengan sahabatnya sendiri.
“Oh..my god! Make me be strong please…” bisik hatiku mulai melangkahkan kaki keluar dari ruangan yang menjadi saksi cinta ku dan mr. Charming itu.


*****


Seminggu berlalu, Jelita masih bungkam dan tak berbicara dengan ku. Aku mulai kehabisan cara untuk memulai pembicaraan dan meminta maaf pada Jelita. Aku tak ingin menyakiti hati sahabatku tapi aku pula tak mampu meninggalkan cinta pertama ku.
DRrtt…drrrrrrrttt…..dddddddrrttt…..
Ponsel ku berdering di tengah keputus asaanku, tanpa melihat siempunya asal ku jawab panggilan itu.
“Hallo.” Kata ku parau.
“Piot.?” Tanya suara disebrang.
“Jelita ?” tanya ku terkejut menyadari suara yang khas itu.
“Yeach..” jawabnya singkat.
“Jel gue..”
“Ssst..Piot, Gue jadian sama Radit.” Jelasnya dengan suara yang nampak bahagia.
“Oiia??” tanyaku tak percaya.
“Hu.uh..”
“Loe gak marah soal yayang?”
“Marah ? malah gue mau ngjakin lu double date malem minggu besok.”
“Serius?”
“Serius…” katanya mengakhiri pembicaraan.
Malam minggu pun tiba .
Aku memakai gaun biru atas lutut sementara Yayang tetap dengan gaya cool nya. Kami makan malam di sebuah restoran terkenal di Jakarta. Dibawah siraman cahaya bintang yang begitu mempesona ku berdansa dengan diiringi alunan lagu romantis.
“Gak nyesel ?” bisik ku pada yayang mencoba untuk meyakinka.
“Cinta itu hadir bukan karena nama, jabatan, harta dan semacamnya. Tapi cinta itu hadir karena hati.” Jelasnya sambil berbisik. Ku rebakan kepalaku diatas dadanya, mencoba merasakan getar cinta antara aku dan dia.

_THE END_

Wednesday, 2 April 2014

Tak ada yang "ABADI"

Pagi ini ada hal yang membuat otak saya tak pula berhenti untuk berpikir. Yaitu seorang nenek yang tua renta berseragam "jantung sehat" yang tengah duduk di sisi lain sebuah bank. Wajahnya begitu bahagia, tapi sorot matanya menggambarkan betapa renta dan sepi hidupnya. Ku hampiri nenek itu, ku lihat ia menggenggam secarik kertas formulir multiguna. Ia terus menatap teller sambil menyimak dengan seksama. 
"Nek, mau setor yah?" tanya ku pada nenek itu. Seketika ia segera menoleh ke arah ku. Dilemparkannya senyum teriring baris kerutan di pipinya.
"Iya nak," jawabnya. Kemudian ia kembali menatap teller.
"Ada yang bisa saya bantu nek?" tanya ku lagi. Entah mengapa aku begitu ingin membantunya. Aku tak kuasa melihat seorang nenek yang tua renta tengah menunggu antrian panjang di bank. 
"nenek mau setor, tapi suara orang itu (teller) sangat kecil. Takut kelewat nak" jawabnya seraya memperlihatkan secarik kertas yang di genggamnya.
"Nenek dapat antrian nomor berapa?" tanya ku lagi. Ternyata nenek tua renta itu sudah berkurang pendengarannya. Dan ia tengah berusaha untuk menyimak agar tidak terlewat dari antrian.
"Seratus dua puluh delapan nak" jawabnya sambil menyerahkan kartu antrian itu pada ku. Waduh..!!! aku tercekat, angka yang tertera di atas antrian itu sangat berbeda dengan yang nenek itu ucapkan. Di sana hanya tertulis angka 25. Tak ku sangka, aku mulai berkaca-kaca. Membayangkan hal yang akan terjadi bila aku tak bertanya dan tak ada seorang pun yang peduli pada nenek itu. Karena sesungguhnya jumlah antrian dalam bank ini hanya sampai lima puluh dan terus berputar. Bisa jadi nenek ini hanya menunggu seharian dari kursi tunggu. 
"Mari sini nek, biar saya bantu untuk menyimak"
"Terima kasih nak"

"Maaf nek, mengapa nenek datang sendiri? di mana suami nenek?" tanya ku lagi, untuk mengusir kebisuan di antara kami.
"Dia sedang beristirahat nak"
"Owh..tapi kan ini masih terlalu pagi untuk istirahat nek" 
"Dia sedang beristirahat di pangkuan tuhan nak" jawabnya. Aku terenyuh, ku palingkan wajah ku pada wajahnya yang rapuh. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar. Ada kerinduan di sana, dan aku tau itu.
"Maaf nek," tanpa sadar aku merangkulnya. Ingin sekali rasanya meringkankan rasa itu.
"Gak apa-apa nak, kita hidup di dunia memang untuk kembali pada -Nya. Nenek pun sudah tak sabar ingin bertemu dia. Satu-satunya orang yang pernah membuat nenek merasakan cinta" jelasnya. Terdengar begitu tegar, aku tak menyangka akan mendapat jawaban seperti ini. Dan tiba-tiba aku teringat pada satu-satunya laki-laki yang selama ini membuat ku jatuh cinta. Pangeran senja, dan kini ia telah pergi. Bukan ke pangkuan tuhan tapi ke pangkuan wanita lain.
"Satu-satunya yang berharga buat nenek saat ini itu cuma anak dan cucu" jelasnya lagi.
"Lalu di mana mereka nek? mengapa mereka membiarkan nenek sendirian di sini?" tanya ku heran dengan seorang anak yang membiarkan ibunya yang sudah tua renta pergi ke bank sendirian.
"Anak nenek sedang sibuk, cucu pun begitu. Nenek masih bisa sendiri nak gak mau merepotkan orang lain"
"Ya ampun nek..." kata-kata ku tertahan. Tak kuasa untuk melanjutkan kalimat yang ingin ku ucapkan selanjutnya. Begitukah? 

Tiba-tiba aku teringat pada ayah dan ibu ku. Meski belum tua renta, usia tetap bertambah dengan pasti. Dan aku bertekad tak akan membiarkan mereka sendirian. Aku mencintai mereka, menyangi mereka lebih dari apapun. Tanpa sadar air mata ku mulai menetes, lagi dan lagi wajah ayah dan ibu ku memenuhi memori ku. Dan aku pun membayangkan keadaan ku lima puluh atau tiga puluh tahun kemudian. Renta, tua, dan sendirian. Karena begitulah hakikat kehidupan. 

Heumm...
Nyesel rasanya suka ngelawan, nyesel kadang suka sebel. Padahal umur cuma Allah yang tahu. Mama ... Apa.. maafin vie yahh.. vie sayang kalian :*

Tak lama teller memanggil no antrian 25. Segera ku antarkan nenek ke depan meja teller. Sambil tak henti-henti berdo'a untuk keselamatan dan kebahagiaannya.

Tuesday, 1 April 2014

IFRS untuk Inventory, Plant. Equipment and Liability



Konsep Dasar Pengukuran Kas Persediaan
Sebelum tahun 2005 IAS 2 membolehkan penggunaan tiga alternatif pengukuran kas persediaan, yaitu metode FIFO dan  Rata-rata Tertimbang yang oleh IAS 2 disebut sebagai ?benchmark treatments?, serta satu lagi metode yang oleh IAS 2 disebut sebagai ?allowed alternative treatments? yaitu metode LIFO. Namun efektif mulai  1 Januari 2005 IFRS tidak membolehkan penggunaan metode LIFO, sehingga metode pengukuran kas yang berlaku tinggal metode FIFO dan metode Rata-rata Tertimbang. Pembatasan penggunakan metode akuntansi semacam ini merupakan indikasi bahwa IFRS pada dasarnya tidak sepenuhnya menggunakan principles-based, bahkan dalam kasus akuntansi persediaan menjadi lebih rules-based dibanding US GAAP.
perbedaan mendasar akuntansi persediaan antara IFRS dan US GAAP adalah pada alternatif metode yang diperkenankan untuk diterapkan.  IFRS lebih membatasi penggunakan alternatif metode akuntansi yang boleh digunakan, sedangkan US GAAP memberi  keleluasaan lebih luas dalam memilih alternatif akuntansi persediaan yang akan diterapkan, sesuai dengan situasi dan keadaan yang dihadapi oleh masing-masing perusahaan, sehingga dapat dikatakan bahwa untuk kasus standard akuntansi persediaan, fakta yang terjadi justru sebaliknya, yaitu IFRS justru lebih condong ke rules-based sedangkan US GAAP justru lebih condong ke principles-based.
Kepemilikan Persediaan
Tidak ada perbedaan tentang standard pengakuan persediaan antara IFRS dengan US GAAP, keduanya menyatakan bahwa persediaan hanya akan diakui sebagai aset perusahaan atau mudahnya diakui sebagai persediaan pada saat persediaan tersebut telah menjadi sumber ekonomi bagi perusahaan, atau secara hukum telah menjadi hak milik perusahaan. Secara umum, perusahaan harus mencatat adanya pembelian atau penjualan persediaan pada saat secara legal telah terjadi perpindahan kepemilikan persediaan.  Baik IFRS maupun  US GAAP menyatakan pentingnya ketepatan cut-off transaksi persediaan pada akhir periode akuntansi untuk menjamin ketepatan pengukuran kinerja operasional perusahaan selama satu periode, sehingga untuk kepentingan pelaporan persediaan dan kas penjualan dalam laporan keuangan diperlukan ketepatan penentuan transfer kepemilikan atas persediaan.
akuntansi berdasarkan IFRS maupun berdasarkan US GAAP menyadari adanya empat hal yang bisa menimbulkan ketidaktepatan pelaporan persediaan, yaitu:
(1)  persediaan dalam perjalanan dengan syarat FOB destination atau FOB shipping point,
(2)   penjualan konsinyasi,
(3) pembelian persediaan dengan skema pendanaan tertentu (product financing arrangements),
(4)  penjualan dengan hak istimewa untuk pengembalian barang (sales with generous or unusual right of return). Tidak ada perbedaan standard akuntansi  antara IFRS dan US GAAP untuk akuntansi atas empat kemungkinan kasus pembelian dan penjualan persediaan seperti tersebut di atas.
Dapat disimpulkan bahwa ketentuan standard akuntansi untuk kepemilikan persediaan, baik IFRS maupun US GAAP sama-sama menekankan pada kejelasan aturan akuntansi dengan mengacu pada substansi transaksi, sehingga bisa dikatakan bahwa kedua standard sama-sama menggunakan basis aturan atau rules-based, atau jika sudut pandangnya ditekankan pada substansi transaksi, dapat dikatakan bahwa keduanya sama-sama menggunakan basis prinsip atau principles-based.
Penilaian Persediaan
IAS 2 mendiskripsikan bahwa basis utama akuntansi persediaan adalah kas, dan kas didefinisikan sebagai jumlah kas pembelian atau kas konversi, termasuk kas lain untuk membuat persediaan ada di lokasi perusahaan dan dalam kondisi seperti pada saat pelaporan persediaan.  Dikatakan bahwa kas atas pembelian persediaan mencakup harga beli, biaya angkut, asuransi, dan biaya penanganan persediaan (handling costs). Potongan tunai, rabat, dan jenis-jenis potongan  pembelian lain jika ada harus dikurangkan ke kos persediaan.  Dapat disimpulkan bahwa sampai dengan titik ini, tidak ada perbedaan kententuan pengukuran kas persediaan antara IFRS dengan US GAAP, keduanya membuat aturan yang boleh dikatakan sama persis, karena memang untuk kasus kas perolehan persediaan tidak ada ruang untuk penerapan konsep principles-based, sehingga mau tidak mau harus menggunakan konsep rules-based.
Joint Products dan By-Products
Dalam beberapa kasus proses produksi, perusahaan memproduksi lebih dari satu jenis produk secara bersamaan. Jika masing-masing jenis produk memiliki nilai yang cukup signifikan, produk tersebut dinamakan sebagai joint products atau produk bersama, jika hanya salah satu produk yang memiliki nilai signifikan, maka produk lain dinamakan sebagai by-produks atau produk sampingan.  Dalam IAS 2, pada saat kas dari masing-masing produk dalam produk bersama sulit diidentifikasi, maka diperlukan alokasi kas produksi secara rasional ke masing-masing jenis produk. Biasanya, alokasi dilakukan berdasarkan pada nilai relatif dari masing-masing jenis produk, yaitu yang diukur berdasarkan harga jual masing-masing jenis produk.  By-products didefinisikan sebagai produk yang memiliki nilai relatif tidak signifikan dibanding nilai dari produk utama perusahaan. IAS 2 menganjurkan bahwa by-products dinilai berdasarkan nilai bersih yang dapat direalisasi (net realizable value), selanjutnya kas yang dialokasikan ke by-products dikurangkan terhadap keseluruhan kas produksi.  Dalam kasus pengukuran kas untuk joint products dan by-products, IFRS mendiskripsikan dengan sangat jelas tentang bagaimana standard akuntansinya, dan dalam hal ini standard akuntansi yang ditawarkan oleh IFRS juga tidak berbeda dengan standard akuntansi versi US GAAP, sehingga dalam kasus inipun tidak bisa dikatakan bahwa IFRS menggunakan konsep principles-based dan US GAAP menggunakan konsep rules-based, tetapi akan lebih tepat dikatakan bahwa baik IFRS maupun US GAAP sama-sama menggunakan konsep rules-based.
Direct Costing
Metode yang telah diterima secara umum dalam mengalokasikan kas overhead tetap ke dalam persediaan akhir dan kas penjualan dikenal dengan nama (full) absorption costing. Dalam kasus ini IAS 2 mengharuskan penerapan metode ini.  Namung demikian untuk keperluan keputusan manajerial perusahaan bisa menerapkan alternatif dari absorption costing, yaitu variable costing atau direct costing. Dalam direct costing kas persediaan hanya terdiri dari kas langsung saja, yaitu terdiri dari kas bahan baku, kas tenaga kerja langsung, dan kas overhead variabel, selanjutnya seluruh kas tetap diperlakukan sebagai kas periode (period costs). Alasan utama penggunakan direct costing adalah agar kontribusi marjinal (marginal contribution) untuk masing-masing jenis produk bisa kelihatan jelas efek linieritasnya, sehingga memudahkan proses perencanaan dan pengendalian bisnis.  Namun demikian, penggunakan direct costing mengakibatkan kas persediaan tidak mencakup seluruh kas yang diperlukan untuk memproduksi persediaan, sehingga direct costing dipandang sebagai metode yang tidak sesuai dengan IAS 2, sehingga jika perusahaan secara interen menggunakan direct costing maka untuk keperluan pelaporan keuangan harus membuat penyesuaian untuk membuat kas persediaan sesuai dengan IFRS yang menganjurkan penggunakan absorption costing. Dapat disimpulkan bahwa dalam kasus direct costing, IFRS tidak menggunakan konsep principles-based melainkan sama persis dengan US GAAP yang menggunakan konsep rules-based.
Pengukuran Kas Persediaan Dengan Metode Identifikasi Khusus
Basis teoritis penilaian persediaan dan kas penjualan adalah berdasarkan kas produksi atau kas peroleh yang melekat pada barang yang masih ada dalam persediaan atau barang yang sudah terjual, dan jika teori ini benar-benar diterapkan maka dikatakan bahwa penilaian persediaan menggunakan metode identifikasi khusus. Namun demikian, secara umum praktik penilaian persediaan semacam ini dipandang tidak praktis, bahkan tidak bisa dioprasionalkan dalam tataran praktik, karena biasanya setiap produk akan kehilangan identitas spesifiknya pada saat produk tersebut telah melewati proses produksi dan proses penjualan, kecuali untuk persediaan-persediaan yang memiliki nilai sangat tinggi dan perputarannya sangat rendah. IAS 2 menetapkan bahwa metode identifikasi khusus harus diterapkan atas persediaan yang tidak saling menggantikan (interchangeable) serta atas barang  yang dibuat dan dipisahkan untuk memenuhi projek tertentu. Untuk persediaan yang memenuhi kreteria semacam ini penggunaan metode identifikasi khusus menjadi keharusan (mandatory) dan alternatif metode penilaian persediaan yang lain tidak diperkenankan untuk diterapkan.  US GAAP tidak mengharuskan penerapan metode penilaian persediaan tertentu, tetapi hanya menyodorkan alternatif metode penilaian, yang menjadi keharusan hanyalah konsistensi dalam menggunakan metode akuntansi yang dipilih untuk diterapkan. Melihat fakta semacam ini, dapat dikatakan bahwa untuk kasus semacam ini US GAAP lebih princile-based dibanding IFRS.
Firs-In, First-Out (FIFO) dan Weighted-Average Cost
Metode penilaian persediaan lain  yang diperkenankan oleh IFRS adalah metode FIFO dan metode rata-rata tertimbang (weighted-average method). Dalam metode FIFO diasumsikan bahwa barang yang pertama dibeli akan menjadi barang yang pertama digunakan atau barang yang pertama dijual, tanpa memperhatikan aliran fisik persediaan yang sesungguhnya. Metode ini dipandang paralel atau paling tidak lebih dekat dengan aliran fisik persediaan pada perusahaan-perusahaan yang memiliki persediaan dengan tingkat perputaran persediaan sedang hingga tinggi. Kekuatan metode ini adalah pada pelaporan persediaan dalam laporan posisi keuangan (neraca), karena persediaan yang pertama dibeli diasumsikan sebagai persediaan yang pertama dijual, maka saldo persediaan akan terdiri dari persediaan yang terakhir dibeli, sehingga pelaporan persediaan menjadi semakin dekat dengan tujuan pelaporan aset sebesar nilai wajarnya.  Dalam metode rata-rata tertimbang, kas persediaan akhir ditentukan sebesar rata-rata kas persediaan selama satu periode. Meskipun dalam metode rata-rata kas persediaan bisa terdistorsi oleh perubahan tingkat harga persediaan, tetapi metode persediaan ini dalam kasus-kasus tertentu cukup praktis untuk diterapkan.  Untuk kasus metode FIFO dan metode rata-rata tertimbang tidak ada perbedaan antara IFRS dengan US GAAP, keduanya membuat aturan dan ketentuan yang sama.
Metode Harga Eceran (Retail Method)
IAS 2 menjelaskan bahwa metode harga eceran mungkin diterapkan pada kelompok industri tertentu. Metode harga eceran konvensional digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang menjual barangnya secara eceran untuk mengestimasi kas persediaan akhir. Metode harga eceran dapat diterapkan pada metode pengukuran kas FIFO, rata-rata tertimbang, atau pada metode the lower of cost or net realizable value (LCNRV). Kunci utama metode harga eceran adalah pada penentuan rasio kas atas harga eceran (cost-to-retail ratio). Perhitungan rasio bisa bervariasi sesuai dengan asumsi arus kas yang digunakan, yaitu FIFO atau rata-rata tertimbang. Metode perhitungan rasio kas atas harga eceran dapat diterapkan dengan berbagai kemungkinan sebagai berikut:
1.    FIFO cost
2.    FIFO ? menggunakan LCNRV
3.    Average cost
4.    Average cost ? menggunakan LCNRV
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam hal persediaan dinilai dengan metode harga eceran (retail method), tidak ada perbedaan teknis perhitungan antara IFRS dengan US GAAP, keduanya mengatur teknis perhitungan kas persediaan dengan cara yang sama, sehingga untuk kasus ini dapat dikatakan IFRS dan US GAAP menggunakan konsep rules-based atau bisa juga dikatakan menggunakan konsep principles-based dari sisi keleluasaan pemilihan alternatif metode.
Gross Profit Method
Metode lain yang juga dikenal dalam IFRS adalah metode laba bruto (gross profit method), metode ini secara konsep tidak berbeda dengan metode harga eceran, fungsinya adalah untuk menentukan nilai persediaan akhir berdasarkan rasio kas atas harga jual, terutama pada saat perusahaan dalam posisi tidak memungkinkan untuk melakukan perhitungan fisik persediaan, atau pada saat perhitungan fisik persediaan dipandang tidak layak untuk diterapkan. Metode ini juga dapat digunakan untuk mengevaluasi kewajaran (reasonableness) jumlah dan nilai persediaan akhir. Dalam hal teknis penerapan metode ini, dapat disimpulkan pula bahwa tidak ada perbedaan antara IFRS dengan US GAAP.
Fair Value as an Inventory Costing Method
Secara umum persediaan dilaporkan sebesar kas-nya, namun demikian sebagaimana telah dideskripsikan dalam berbagai metode penilaian persediaan di atas, kas persediaan kemungkinan harus dipastikan kelayakannya dengan menggunakan berbagai metode penilaian sebagaimana  dideskripsikan dalam IAS 2, dan pada saat jumlah nilai persediaan (recoverable amounts) tidak sama dengan kas persediaan (dalam hal ini lebih rendah dari kas), maka perlu dilakukan penghapusan atas kas persediaan untuk merefleksikan adanya penurunan nilai (impairment) persediaan.
Namun demikian untuk lingkungan industri tertentu dimungkinkan untuk melaporkan persediaan sebesar fair value di atas kas produksi atau kas perolehan persediaan. IAS 41 menyatakan bahwa untuk produk-produk pertanian dapat dilaporkan berdasarkan fair value-nya, selanjutnya IAS 41 juga mendeskripsikan bahwa seluruh aset biologis harus dinilai berdasarkan fair value dikurangi taksiran biaya penjualan, kecuali pada saat fair value tidak bisa diukur dengan memadai. Produk-produk pertanian dinilai berdasarkan fair value pada saat penen dikurangi dengan taksiran biaya penjualan. Ketentuan tentang penggunaan fair value dalam penilaian persediaan, sampai sejauh ini juga dapat disimpulkan tidak ada perbedaan signifikan antara IFRS dengan US GAAP.

Ø  IFRS: Property, Plant, and Equipment

Aset tetap atau PPE (Property, Plant, and Equipment) adalah aset berwujud (tangible assets) yang digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan, yang memiliki manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Istilah aset tetap digunakan untuk membedakan dengan aset tidak berwujud, yang juga memiliki masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi tetapi tidak memiliki wujud fisik, serta nilainya tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh eksistensi fisik dari aset.
Pengukuran Kas Investasi Awal
Seluruh biaya yang dikeluarkan untuk membuat aset tetap dalam kondisi siap dioperasikan harus dicatat sebagai bagian dari kas aset. Elemen kas mencakup (1) harga beli, (termasuk biaya legal dan fee perantara, pajak impor, pajak pertambahan nilai, dan pajak-pajak lain yang bersifat final, dikurangi dengan diskon atau rabat), (2) seluruh biaya langsung untuk membawa aset ke lokasi hingga siap dioperasikan sesuai harapan manajemen, (termasuk biaya persiapan lokasi penempatan aset tetap, biaya pemasangan, dan biaya uji coba), (3) taksiran biaya pembongkaran (dismantling costs), pemindahan barang, dan penyiapan lokasi. Dari tiga macam elemen kas, letak perbedaan US GAAP dan IFRS adalah pada perlakukan akuntansi atas dismantling costs, US GAAP menggunakan prinsip kas historis, sehingga unsur biaya yang sifatnya masih prediktif, apalagi peristiwanya akan terjadi setelah aset tetap dihentikan pemanfaatannya, tidak diperlakukan sebagai unsur kas aset tetap.
Kas Aset yang Dibangun Sendiri
Konsep pengukuran kas atas aset tetap yang dibangun sendiri adalah sama dengan aset tetap yang diperoleh dengan membeli dalam bentuk jadi, yaitu bahwa seluruh kas yang diperlukan untuk menyelesaikan pembangunan aset diperlakukan sebagai kas aset tetap, permasalahan hanya akan terjadi pada saat kas aset ternyata melampaui recoverable amount, kelebihan kas harus diperlakukan sebagai biaya pada periode terjadinya kas. Jumlah abnormal dari sisa bahan, tenaga, dan sumberdaya yang lain tidak boleh diperlakukan sebagai kas aset tetap.
Aset tetap yang dibangun sendiri juga mencakup biaya pendanaan selama proses pembangunan berlangsung. Ketentuan kapitalisasi biaya pendanaan diatur dalam IAS 23. Kontroveri muncul untuk perlakuan akuntansi atas overhead kas tetap. Terdapat dua alternatif perlakuan akuntansi atas overhead kas tetap:
  1. Dibebankan ke kas aset berdasarkan jumlah wajarnya atau dibebankan secara rata-rata, misalnya menggunakan basis yang sama dengan pembebanan untuk persediaan yang diproduksi sendiri, atau
  2. Dibebankan ke kas aset tetap hanya sebesar kenaikan fixed overhead cost yang dapat diidentifikasi.
Ketentuan dalam IAS 23 tersebut tidak berbeda dengan ketentuan yang berlaku dalam US GAAP.  Ketika IFRS belum mengatur masalah ini, praktisi akuntansi dianjurkan untuk mempertimbangkan pedoman yang dikeluarkan oleh US GAAP.
           Dalam hal aset tetap diperoleh dengan cara dibangun sendiri, sampai dengan saat ini belum ada perbedaan konsep dan standar antara US GAAP dan IFRS.
Kas atas Pertukaran Aset Tetap
Aset tetap kemungkinan diperoleh melalui pertukaran antar aset tetap. US GAAP mengatur bahwa pertukaran harus dibedakan sebagai berikut:
  1. Pertukaran tersebut antar aset sejenis atau tidak sejenis, kriteria sejenis atau tidak sejenis adalah pada fungsi dari aset tetap, jika fungsinya sama maka akan disimpulkan sebagai aset tetap sejenis.
  2. Jika pertukaran dilakukan antara aset tetap sejenis, maka tidak boleh diakui adanya laba pertukaran aset tetap, kecuali dalam pertukaran tersebut diterima sejumlah kas, maka laba diakui proporsional dengan kas yang diterima.
IFRS menetapkan standar yang kurang lebih sejalan dengan yang diatur dalam US GAAP, perbedaanya adalah pada ketentuan sejenis dan tidak sejenis. IFRS menggunakan istilah substansi ekonomi, dalam arti bahwa pertukaran tersebut mengandung substansi ekonomi atau tidak. Ukuran substansi ekonomi adalah pada pengaruhnya terhadap arus kas di waktu yang akan datang, jika arus kas di waktu yang akan datang diprediksi tidak terpengaruh oleh pertukaran, maka pertukaran akan dianggap sebagai tidak memiliki substansi ekonomi, atau dianggap sebagai pertukaran aset tetap sejenis, meskipun pada dasarnya aset tetap tersebut memiliki fungsi dan kegunaan yang berbeda.
Kas Setelah Kepemilikan
Kas yang terjadi setelah kepemilikan aset tetap, seperti perbaikan, pemeliharaan, atau perbaikan (betterment). Perlakukan akuntansi atas kas setelah pemilikan ditentukan oleh karakteristik dari kas tersebut. Kas setelah pemilikan dapat dikapitalisasi sepanjang kas tersebut diprediksi akan memberikan manfaat ekonomi di waktu yang akan datang melampau prediksi manfaat ekonomi semula, misalnya umur ekonomisnya bertambah, kapasitas produksinya bertambah, atau kualitas outputnya meningkat.
Sebagaimana halnya dalam kas aset yang dibuat sendiri, jika kas penggantian melampaui batasan kas yang telah ditetapkan, maka kelebihan kas harus dibebankan sebagai biaya pada periode yang berjalan, dan pada saat perbaikan aset menyangkut penggantian sebagian dari aset, bagian aset yang diganti harus diperlakukan sebagai penghentian aset.
Untuk komponen aset tetap yang harus diganti secara periodik, karena usia ekonomisnya lebih cepat dibanding aset tetap utamannya, maka komponen tersebut harus didepresiasi tersendiri sesuai dengan umur ekonomis bagian dari aset tetap tersebut, sehingga ketika komponen tersebut diganti atau direnovasi total, komponen tersebut diharapkan sudah habis didepresiasi secara penuh. Jika ternyata masih tersisa kas komponen aset tetap yang belum didepresiasi penuh dan komponen aset tetap yang baru telah dibukukan sebagai komponen aset tetap, maka sisa kas aset tetap tersebut harus dihapus dari rekening komponen aset tetap.
Prinsip umum yang dapat digunakah adalah jika pengeluaran kas setelah pemilikan hanya ditujukan untuk membuat aset tetap dapat berfungsi sesuai dengan prediksi kapasitas produksi pada saat aset tetap diperoleh, atau untuk mengembalikan kapasitas aset tetap ke kapasitas semula, pengeluaran kas setelah pemilikan tersebut tidak boleh dikapitalisasi.
Pengecualian dapat diberikan pada saat aset tetap diperoleh dalam kondisi memerlukan pengeluran tertentu untuk membuat aset tetap tersebut dalam kondisi dapat dioperasikan sebagaimana yang diharapkan. Dalam kondisi semacam ini, kas kas yang dalam kondisi normal masuk dalam kategori biaya pemeliharan dan tidak dikapitalisasi, dapat diperlakukan sebagai kas yang dikapitalisasi. Setelah restorasi aset tetap selesai, selanjutnya pengeluaran biaya pemeliharaan harus diperlakukan sebagai biaya periode.
Secara umum standar akuntansi untuk pengeluaran setelah pemilikan, tidak ada perbedaan antara standard versi US GAAP dengan versi IFRS. Ketentuan tentang kapitaliasi pengeluaran, yang dalam US GAAP diklasifikasi ke dalam capital expenditures dan revenue expenditures, dalam IFRS juga berlaku ketentuan yang sama.

Depresiasi
Tidak ada perbedaan antara US GAAP dan IFRS tentang peran penting prinsip penandingan (matching principle). Sesuai dengan konvensi dasar tentang prinsip penandingan, kas aset tetap harus dialokasikan ke masing-masing periode yang menikmati jasa aset tetap melalui depresiasi.  Pemilihan metode depresiasi harus disesuaikan dengan karakteristik aset tetap yang didepresiasi, dengan tujuan agar menghasilkan alokasi kas aset tetap secara sistematis dan rasional selama umur ekonomis aset tetap.
Penentuan umur ekonomis aset tetap harus mempertimbangkan sejumlah faktor, misalnya faktor perubahan teknologi, keusangan normal, penggunaan secara fisik, serta kemampuan untuk menggunakan aset tetap, baik secara legal maupun berdasarkan pertimbangan-pertimbangan keterbatasan yang lainnya.  IAS 16 menyatakan bahwa, meskipun secara normal tanah memiliki umur ekonomis tak terbatas sehingga kas tanah tidak didepresiasi, tetapi pada saat di dalam kas tanah dimasukkan unsur kas penataan kembali atau kas restorasi tanah pada akhir masa penggunaannya, maka kas penataan kembali atau kas restorasi tanah harus didepresiasi sesuai dengan umur ekonomisnya. Dalam bidang industri tertentu, tanah kemungkinan memiliki umur ekonomis yang terbatas, misalnya terjadinya penurunan kesuburan tanah atau karena spesifik yang lainnya, dalam kasus semacam ini kas tanah harus didepresiasi sesuai dengan umur ekonomisnya.
IAS 16, revisi 2003, menganjurkan penggunaan pendekatan komponen dalam depresiasi aset tetap. Dalam pendekatan ini masing-masing komponen aset tetap yang memiliki umur ekonomis berbeda atau memiliki pola pemanfaatan berbeda, didepresiasi secara terpisah dengan metode yang bebeda. Pendekatan ini ditujukan untuk keperluan ketepatan perlakuan akuntansi atas pengeluaran-pengeluaran di waktu yang akan datang yang berkaitan dengan komponen aset tetap yang bersangkutan. Selanjutnya IAS 16 menyatakan bahwa metode depresiasi harus merefleksikan pola harapan manfaat ekonomis aset tetap di waktu yang akan datang, sehingga ketepatan metode depresiasi harus dikaji ulang paling tidak satu tahun sekali untuk disesuaikan dengan kemungkinan perubahan pola manfaat ekonomis aset tetap.
Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa IFRS mengatur secara lebih rinci tentang ketentuan depresiasi aset tetap, terlebih lagi jika ketentuan depresiasi ini dihubungkan dengan depresiasi untuk dismantling dan decommissioning costs. Dalam hal terdapat situasi khusus seperti dalam kasus depresiasi tanah tersebut di atas, pada dasarnya di bawah US GAAP praktik semacam itu tetap dimungkinkan melalui wadah yang disebut dengan praktik industri, artinya praktik-praktik akuntansi tertentu tetap dimungkinkan untuk diterapkan sepanjang praktik tersebut telah berterima umum dalam bidang industri yang bersangkutan, serta sesuai dengan rerangka konseptual akuntansi keuangan.
Nilai Residu
IAS 16 menyatakan bahwa nilai residu sering tidak material dan dalam praktik sering diabaikan, namun demikian untuk aset tertentu sangat dimungkinkan bahwa nilai residu cukup material, terutama pada saat perusahaan menghentikan aset lebih awal dari umur ekonomisnya, misalnya nilai residu aset tetap untuk bisnis perhotelan, yang karena tuntutan kualias pelayanan,  aset tetap cenderung dipelihara dengan standar tinggi, bahkan untuk aset tetap tertentu bisa jadi nilai residunya lebih tinggi dari kas perolehannya.
            Dalam perspektif kas historis, nilai residu didefinisikan sebagai nilai yang diharapkan dari aset tetap pada akhir masa kegunaan aset tetap, berdasar nilai mata uang sekarang. Namun demikian nilai residu harus diukur berdasarkan nilai bersih di luar biaya penghentian aset tetap. Dalam kasus tertentu, dimungkinkan aset tetap memiliki nilai residu negatif, sebagai contoh adalah nilai residu aset tetap pada saat suatu entitas harus mengeluarkan biaya untuk penghentian aset  tetap dalam jumlah yang cukup besar, atau pada saat suatu perusahaan harus mengembalikan property seperti keadaan sebelum suatu aset ditempatkan, misalnya untuk kasus tanah pertambangan yang menjadi objek undang-undang perlindungan lingkungan. Dalam kasus semacam ini total beban depresiasi  kemungkinan akan melampaui kas perolehan aset tetap, sehingga pada akhir umur ekonomis aset tetap, taksiran utang atas penghentian aset akan sama dengan jumlah nilai residu negatif.  Sehubungan dengan potensi kasus semacam ini, nilai residu akan menjadi objek pengkajian ulang paling tidak satu tahun sekali.
Jika pengukuran aset tetap menggunakan metode revaluasi, nilai residu harus diukur ulang pada setiap tanggal revaluasi aset tetap. Pengukuran nilai residu dilakukan dengan menggunakan data nilai realisasi aset sejenis, dan umur ekonomis aset tetap pada saat dilakukan revaluasi. Namun demikian dalam pengukuran nilai residu tidak perlu dilakukan pengukuran potensi inflasi serta tidak perlu dilakukan pengukuran nilai sekarang untuk mengakui adanya perubahan nilai waktu uang. Sesuai dengan prinsip kas historis dalam akuntansi aset tetap, jika diprediksi terjadi nilai residu negatif, nilai residu negatif dibebankan selama umur ekonomis aset tetap, dengan cara seperti ini pada akhir umur ekonomis jumlah biaya penghentian aset tetap telah habis dibebankan dan disebar ke seluruh periode akuntansi selama umur ekonomis aset tetap.
Umur Ekonomis Aset Tetap
Umur ekonomis aset tetap dipengaruhi oleh berbagai hal seperti kebijakan perbaikan dan pemeliharaan aset, perubahan teknologi, dan permintaan pasar atas barang yang diproduksi dengan menggunakan aset tetap yang bersangkutan. Jika ketika melakukan review metode depresiasi ternyata dapat diidentifikasi berbagai hal yang mempengaruhi penggunaan aset tetap, sehingga taksiran umur ekonomis menjadi di atas atau di bawah taksiran sebelumnya, maka perubahan taksiran umur ekonomis diperlakukan sebagai perubahan estimasi akuntansi, bukan sebagai koreksi atas kesalahan  akuntansi.  Dengan demikian, tidak perlu dilakukan pelaporan ulang atas biaya depresiasi yang dibebankan pada periode sebelumnya, perubahan diperhitungkan secara prospektif, yaitu direfleksikan pada periode terjadinya perubahan dan periode-periode sesudahnya.
Contoh perlakuan akuntansi atas perubahan estimasi umur ekonomis aset tetap, misalnya suatu aset tetap dengan kas Rp100.000.000,00, prakiraan awal umur ekonomis 10 tahun, tanpa antisipasi nilai residu. Depresiasi menggunakan metode garis lurus, sehingga depresiasi per tahun adalah Rp100.000.000/10 tahun = Rp 10.000.000. Setelah dua tahun berjalan, manajemen merevisi umur ekonomis aset tetap tersebut menjadi 6 tahun. Dalam kasus ini maka depresiasi tahun ke 3 sampai dengan tahun ke enam adalah berdasarkan sisa nilai buku aset tetap, tanpa harus merevisi depresiasi yang telah dibebankan selama dua tahun sebelumnya, sehingga dipresiasi per tahun setelah tahun ke dua adalah: ? x Rp80.000.000 = Rp20.000.000,00.

Revaluasi Aset Tetap
IAS 16 menyediakan dua pendekatan akuntansi untuk revaluasi aset tetap berwujud. Pertama adalah akuntansi berdasar kas historis, di mana kas perolehan atau kas konstruksi digunakan sebagai dasar pengakuan perolehan aset tetap, menjadi dasar perhitungan depresiasi selama umur ekonomis aset tetap, dan juga sebagai dasar penghapusan aset tetap dalam hal terjadi penurunan nilai aset tetap yang bersifat permanen. Dalam sejumlah Negara metode ini menjadi satu-satunya metode yang diperkenankan, tetapi dalam beberapa negara tertentu, terutama di negara-negara yang tingkat inflasinya tinggi, mengijinkan baik revaluasi penuh maupun revaluasi secara terbatas (selected revaluation), dan IAS 16 membolehkan praktik semacam ini dengan memberi mandat yang dinyatakan dalam suatu model yang disebut ?model revaluasi (revaluation model)?. Dalam model revaluasi, setelah pengakuan aset, selanjutnya elemen-elemen aset tetap yang nilai wajarnya dapat diukur dengan terpercaya (reliable) harus disajikan sebesar nilai revaluasinya, yaitu sebesar nilai wajar aset tetap pada tanggal revaluasi dikurangi dengan akumulasi depresiasi sesudah revaluasi dan akumulasi rugi penurunan nilai setelah revaluasi.
Dasar pemikiran pengakuan revaluasi adalah berhubungan dengan laporan posisi keuangan (neraca) dan pengukuran kinerja periodik entitas yang disajikan dalam laporan rugi laba komprehensif. Sehubungan dengan pengaruh inflasi, yang jika diukur secara tahunan tidak material, tetapi jika diukur selama umur ekonomis aset tetap jumlahnya bisa menjadi material, maka laporan pisisi keuangan dapat menjadi kumpulan beragam kas yang tidak bermakna jika prinsip kas historis tetap dipertahankan dan revaluasi aset tetap tidak diperkenankan untuk diterapkan.
Lebih jauh lagi, jika pembebanan depresiasi ke dalam laporan rugi laba didasarkan pada kas historis, maka konsekuensinya laba akan menjadi lebih saji (overstated).  Dalam situasi semacam ini, entitas yang secara nominal tampak menguntungkan, karena kinerjanya diukur dengan kas historis, bisa jadi akan menghadapi persoalan likuiditas dan tidak mampu melanjutkan usahanya, atau paling tidak akan berada dalam posisi kinerja organisasi yang lebih rendah dari yang dipersepsikan pembaca laporan keuangan, tanpa adanya dukungan utang baru atau investasi baru. IAS 29, Financial Reporting in Hyperinflationary Economies, mengatur masalah penyesuaian depresiasi pada kondisi hiper inflasi. Disadari bahwa penggunaan metode revaluasi akan menjadi tidak tepat dalam situasi ekonomi yang dari waktu ke waktu tidak menghadapi inflasi yang yang berarti.
Dalam model revaluasi, frekuensi revaluasi tergantung pada perubahan nilai wajar dari elemen yang akan direvaluasi, dan konsekuensinya kekita nilai wajar aset yang direvaluasi berbeda cukup material dengan nilai tersajinya (carrying amount), maka diperlukan revaluasi ulang. Telah pula disadari bahwa model revaluasi memakan biaya yang lebih besar dibanding model kas historis, oleh sebab itu hasil survey di Inggris tahun 2005 yang dilakukan oleh the Institute of Chartered Accountants  menyimpulkan bahwa hanya 4% dari EU Companies yang menggunakan model revaluasi untuk bangungan, tetapi tidak menggunakan model revaluasi untuk aset tetap yang lain, dan hanya 28% dari EU Companies dengan investasi pada property yang menggunakan metode nilai wajar (revaluasi) untuk aset yang dimilikinya.
Berdasarkan uraian di atas, secara konseptual model revaluasi memang lebih ideal dibanding model kas historis, namun demikian dalam praktik model revaluasi lebih sulit untuk diterapakan serta lebih memakan biaya.  Pertanyaan lain yang bisa muncul adalah tentang kenaikan manfaat informasi kuangan dengan model revalusi dibandingkan dengan biaya untuk mengimplementasikan model revaluasi. Jika manfaatnya jauh melampaui biayanya, maka model revaluasi akan menjadi relevan untuk diterapkan. US GAAP tidak mengatur masalah revaluasi karena berbagai pertimbangan tentang konsekuensi dari penerapan model revaluasi.
Nilai Wajar
Sebagai basis dari metode revaluasi, standar mendeskripsikan nilai wajar yang digunakan dalam setiap kasus revaluasi, yaitu yang didefinisikan sebagai nilai aset yang dapat digunakan sebagai basis nilai pertukaran antara dua fihak yang sama-sama memahami aset dan berkenan untuk melakukan pertukaran.
            Nilai wajar memang diakui sebagai nilai yang paling tepat untuk diterapkan, terlepas dari sulitnya melakukan pengukuran atas nilai wajar aset tetap. Pada saat ini istilah nilai wajar (fair value) diterapkan dalam IFRS tanpa petunjuk detail tentang bagaimana menerapkannya. Pada bulan Mey 2009, IASB mempublikasikan Exposure Draft (ED) tentang fair value measurements, yang mengacu pada US GAAP, tepatnya mengacu pada FAS 157, yang digunakan oleh IASB sebagai titik awal perumusan nilai wajar (as the starting point for its deliberations) tentang pedoman pengukuran nilai wajar. Berdasarkan ED 2009, IASB mendeskripsikan bahwa pengukuran nilai wajar dapat dibagi ke dalam 3 (tiga) peringkat  sebagai berikut, peringkat I adalah didasarkan pada harga standar (quoted prices) pada pasar aktif untuk aset atau utang yang dinilai, peringkat II adalah didasarkan pada hasil obervasi langsung atau tidak langsung atas harga di pasar aktif untuk aset dan utang yang sejenis, dan peringkat III adalah berdasarkan data yang tidak diobservasi, tetapi mampu merefkelsikan asumsi bahwa para partisipan pasar akan menggunakannya sebagai dasar pengukuran harga dan utang, termasuk asumsi tentang risiko.

Ø  Klasifikasi Liabilitas Jangka Pendek Sesuai IFRS

Suatu liabilitas (kewajiban), menurut IAS 1, masuk klasifikasi “Jangka Pendek” (atau Lancar) apabila :
  • Diharapkan bisa diselesaikan (dibayar/dilunasi) dalam kurun waktu operasional normal perusahaan;
  • Jatuh tempo dalam jangka waktu tidak lebih dari 12 bulan dari tanggal laporan posisi keuangan (tanggal neraca);
  • Dimiliki untuk maksud diperdagangkan;
  • Entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian laibilitas selama sekurang-kurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan.
Jika tak satupun diantara keempat kriteria di atas terpenuhi, maka suatu liabilitas diklasifikasikan sebagai “liabilitas jangka panjang”.
Masuk dalam klasifikasi liabilitas jangka pendek, antara lain:
1. Kewajiban yang timbul dari pembelian barang atau jasa yang digunakan dalam operasional normal perusahaan, diantaranya:
  • Utang Dagang
  • Utang Tertulis Jangka Pendek
  • Utang Upah dan Gaji Pegawai
  • Utang Pajak
  • Utang Lain-lain
2. Pembayaran diterima dimuka yang mengakibatkan timbulnya kewajiban untuk menyerahkan barang atau jasa di masa yang akan datang, misalnya:
  • Pendapatan Diterima Dimuka
  • Deposit Dari Pelanggan
  • Sewa Diterima Dimuka
3. Kewjiban lain yang akan jatuh tempo di periode berjalan, misalnya: promes yang akan segera jatuh tempo.
Lebih jauh lagi, laibilitas lainnya yang masuk klasifikasi jangka pendek adalah liabilitas  tidak diselesaikan dalam siklus operasi normal tetapi jatuh tempo untuk diselesaikan dalam waktu dua belas bulan setelah periode pelaporan atau dimiliki untuk tujuan diperdagangkan. Misalnya:
  • Liabilitas keuangan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk diperdagangkan;
  • Cerukan bank;
  • Bagian jangka pendek dari laibilitas keuangan jangka panjang;
  • Dividen terutang;
  • Pajak penghasilan terutang; dan
  • Terutang nonusaha lainnya
Khusus “Liabilitas Keuangan”. IAS 1 mengijinkan perusahaan mengakui suatu liabilitas keuangan jangka pendek apabila liabilitas tersebut akan jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas bulan setelah periode pelaporan, meskipun:
  • kesepakatan awal perjanjian pinjaman untuk jangka waktu lebih dari dua belas bulan; dan
  • perjanjian untuk pembiayaan kembali atau penjadwalan kembali pembayaran, atas dasar jangka panjang telah diselesaikan setelah periode pelaporan dan sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan.

Ø  Klasifikasi Liabilitas Jangka Panjang Sesuai IFRS

Kewajiban-kewajiban yang akan terselesaikan melebihi siklus operasional normal perusahaan masuk klasifikasi “Liabilitas Jangka Panjang”, antara lain:
  • Kewajiban yang timbul sebagai bagian dari strukturisasi modal perusahaan berjangka panjang, misalnya: pinjaman bank jangka panjang, promes, kewajiban sewa jangka panjang.
  • Kewajiban yang timbul tidak dari opersional normal perusahaan, misalnya: kewajiban premi pensiun, liabiltas pajak tangguhan yang penyelesaiannya belum diketahui secara pasti.


Fifi Rizky Awaliyah
Masterpiece
FE.AK Universitas Pancasila
1212215086






Rangkuman Debat Pertama Capres 2024

Anies Baswedan Visi dan Misi 1.        Menempatakan hukum sebagai rujukan utama untuk memastikan hadirnya rasa keadilan memberikan keber...