Ruang meeting lantai itu mendadak sesak. Di deretan kursi depan, duduk Kepala Divisi bersama dua orang kepercayaannya. Di sisi lain, ada rekan-rekan Accounting dari level staf sampai manajer dan ada pula tim Payable yang sebenarnya tidak ada urusan sama sekali.
Total puluhan pasang mata terkumpul di satu ruangan.
Bagi orang luar, ini mungkin terlihat seperti rapat koordinasi skala besar di holding company tempat saya mengelola beberapa entitas perusahaan. Namun bagi saya sebagai tim Finance AR (Accounts Receivable), ruangan itu sudah disulap menjadi panggung eksekusi publik.
Semua bermula beberapa hari sebelumnya. Selepas makan siang, suasana ruangan Finance masih cukup lengang. Dari kejauhan, saya melihat seorang rekan kerja wanita—tipe orang yang selalu ramah di depan atasan tapi punya radar tajam mencari celah kesalahan orang lain—sedang duduk berbisik intens dengan sang Kepala Divisi. Saya memilih tidak menyela dan langsung larut dalam perkerjaan.
Sorenya, sebuah undangan kalender masuk: Meeting Pembahasan Uang Masuk Belum Teridentifikasi (Unidentified Deposit).
Yang membuat dahi saya berkerut bukan agendanya, melainkan daftar pesertanya. Mengapa staf payable, hingga petinggi Divisi perlu hadir untuk membahas rekonsiliasi teknis satu fungsi?
Bagi orang finance, rekening koran yang memuat dana misterius adalah makanan sehari-hari. Penyebabnya beragam:
Kelalaian Tim Marketing/Sales: Uang dari klien sudah masuk berbulan-bulan lalu, tapi orang marketing tak kunjung membuat request invoice meski sudah ditagih dari cara halus, tegas, sampai debat urat leher. (Ironisnya, saat tim kami ditekan soal ini, orang yang bersangkutan sedang asyik ikut outing kantor).
Mutasi Vendor & Transaksi Online: Ada setoran vendor atau penjualan platform e-commerce yang alur verifikasinya melibatkan Finance AP, bukan semata-mata tanggung jawab AR.
Hari H tiba. Rekan wanita tersebut berdiri dengan presentasi yang rapi. Suaranya lantang dan percaya diri saat menyebut kata kuncinya: tim Finance AR dinilai "GAGAL" mengidentifikasi uang masuk.
Ruangan mendadak hening.
Secara teknis, solusinya masuk akal. Kebijakan baru yang dia tawarkan agar semua pihak ter-update secara berkala pun sangat bisa kami kerjakan. Kami bukan tim yang anti-kritik, alergi feedback, apalagi menolak perbaikan alur kerja.
Masalahnya bukan pada APA yang dia sampaikan, melainkan BAGAIMANA CARA dan PANGGUNG yang dia pilih.
Jika niatnya murni koordinasi operasional, masalah ini bisa selesai lewat pesan singkat, panggilan internal 15 menit, atau pertemuan tertutup antar PIC terkait.
Namun mengumpulkan puluhan orang—termasuk petinggi divisi dan orang-orang yang tidak relevan—bukanlah upaya efisiensi. Itu adalah corporate performance art. Tujuannya sederhana:
mempermalukan satu tim di depan publik, mencap kami lalai, sambil memoles citra dirinya sendiri sebagai "penyelamat sistem" di mata manajemen.
Prinsip manajemen modern selalu bilang: Praise in public, criticize in private. Tapi di dunia kerja nyata, sebagian orang memilih membakar rumah tetangga hanya agar obor di tangannya terlihat paling terang.
Bekerja dengan beban beberapa entitas mungkin menguras tenaga. Tapi menghadapi manuver politik rendahan seperti ini? Itulah yang perlahan menggerogoti mental health.
Di kantor kalian, pernah ada rekan kerja yang hobi bikin meeting besar cuma untuk "menelanjangi" kesalahan divisi lain demi cari muka ke atasan?
Menurut kalian, apakah wajar membawa masalah teknis ke panggung sebesar itu, atau ini murni politik kantor yang toksik? Tulis pengalaman kalian di bawah yaaa... #DuniaKerja #BudayaKantor #CorporateLife #DramaKantor #CurhatPekerja#ToxicWorkplace #PolitikKantor #PublicShaming #MentalHealthKerja #QuietQuitting#AnakFinance #AccountingLife #BudakKorporat #PekerjaKantoran
