buruannnnnnnn diserbu..!!!!

Tuesday, July 26, 2011

Sahabat ???

Hujan deras terus mengguyur kota Jakarta. Langit begitu gelap yang diiringi suara dangan hembusan angin yang begitu dasyat. Ditengah jalan yang begitu pekat seorang gadis kecil berlari memecah hujan. Terlihat dari kejauhan seorang gadis bernama Pipit dan keluarganya melambai - lambai sambil berteriak.                                                                                    
            ”Fifi…..Fifi……”                                                         

Langkah gadis itu semakin cepat, namun tiba - tiba terdengar   deru mesin yang memekakan telinga, gadis itu jatuh terhempas dan Pipit pun hilang dari pandangan.

            “Pit…..Pipit…….Pit….. “   

Kringggg…………..!!!                                                                   

Seorang gadis baru saja terbangun dari tidurnya. Wajahnya begitu pucat, ia memegang kepalanya dan berjalan menuju kamar mandi. Ia membasuh wajah pucatnya dengan air yang begitu dingin. Rambut hitam panjangnya tampak begitu lusuh, seperti sudah lama tak terjamah oleh air. Iapun merebakan seluruh tubuhnya di dalam bathub. Sementara fikirannya masih terfokus pada mimpinya.

 Satu jam berlalu, ia keluar dari kamar mandi hanya dengan sehelai kain sutra berwarna putih yang dengan jelas memperlihatkan bentuk tubuhnya. Ia terdiam sejenak di depan cermin memperhatikan seluruh tubuhnya.

”Fi…..ada Fadil tuch….”

Suara keras mengejutkannya, dengan geraman dan tangan yang mangapal gadis itu berdiri dan melirik kearah jam.

”Hah! jam tujuh?

Gadis itu berteriak dan langsung menggunakan baju seragam kesukaannya, dan segera mengambil buku-buku tugas sambil berlari keluar.

 ”Ibu…………………………………….”

Sapanya sambil mencium tangan ibunya.

”Fadil udah nunggu dari tadi ”

”Oiiia…….ya udah aku pergi dulu, Assalamu alaikum…”

Gadis itu kembali mencium tangan ibunya dan terus berlari menghampiri Fadil.

Gadis dengan nama panjang Fifi Nurfitriyah itu memang dikenal sebagai anak yang supel dan taat pada agama. Dalam kesehariannya, ia selalu manggunakan baju-baju yang tak membuat auratnya terlihat. Pandangannya selalu indah sehingga meskipun ia sangat berbeda dan dapat dibilang katro tapi tak sedikit orang yang ingin menjadi temannya. Bahkan sering kali ia mendapat surat pernyataan cinta dari beberpa orang pria, namun ia menanggapinya dengan biasa dan lembut. Meski banyak yang menyukainya tapi ia tak pernah mencicipi yang namanya pacaran.

Fifi terlahir dalam keluarga yang sederhana. Ayahnya telah lama tiada hingga kini Fifi dan ibunya berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan ketering dan berjualan kue yang dititipkan dari toko ke toko. Walaupun demikian tak pernah sidikitpun ia terlihat sedih dan menyalahkan orangtuanya.



*****



        

Adalah Fadil cowok berbadan tinggi dengan kulit sawo matang dengan lesung pipit yang selalu mengiringi senyumnya. Suaranya yang khas membuatnya semakin populer dikalangan cewek-cewek. Walaupun demikian ia tak pernah sombong dan ia tetap teguh kalau dihatinya hanya ada seorang sahabat yaitu Fifi. Mereka bersahabat sejak pertama kali duduk dabangku SMA. Bahkan karena kedekatan mereka tak sedikit orang yang mengatakan bahwa mereka adalah sepasang kekasih.

          Sepi sunyi pun menyelimuti perjalanan mereka. Fifi tampak pusing dan Fadil tak tau harus berbuat apa sehingga kebisuan menyelimuti suasana.

          ”Fi ……..loe kenapa sich? Dari tadi diem mulu ”

Fadil bertanya memudarkan kesunyian. Karena ia tak sabar, ia menghentikan mobilnya dan kembali bertanya.

          ”Fi………..loe kenapa? ”

          ”ng…..nggak koq, aku cuma lagi bingung aja ”

          ”Bingung? Emang loe bingung kenapa? ”

          ”Aku bingung soalnya tadi malam aku mimpiin hal yang pernah aku alamin ” jelas Fifi tanpa ekspresi.

          ”Aku mimpiin sahabatku yang telah lama pergi ” lanjutnya.

          ”pergi??? ”

          ”yuPzZ!dia pergi ke Amerika bersama keluarganya ”

          ” ……………………… ”

          ”Dia adalah Pipit. keluargaku dan keluarganya sudah saling mengenal sejak aku masih bayi. Kami selalu bersama baik susah maupun senang. Pokoknya dalam segala hal kami sejalan, sefikiran dan yang paling penting komitmen kami sama yaitu nggak ada pacaran sebelum nikah…..”

Fadil terkejut mendengarnya hingga tak sadar ia menginjak rem dan mobilpun terhenti secara tiba-tiba. Yang menyebabkan tubuh mereka tersungkur ke depan.

           ”UpzZ….sorry…sorry.. ”

           ”kok ngerem mendadak? ”

”ng….ng….. ”

“……………….”

Fifi terdiam sejenak dan melanjutkan ceritanya kembali.

           ”Dan kita berjanji akan pake jilbab selamanya sebagai persahabatan kita yang abadi ”

Ia menyudahi ceritanya. Tak lama kemudian mobil berhenti didepan sekolah. Mereka pun langsung menuju ke kelas.

           ”Sekarang loe sama dia gamana? ” Tanya Fadil.

           ”Dulu sich sering komunikasi tapi sekarang lost contact banget ”

Jawab Fifi dengan senyum manis yang di wajahnya sambil meletakan tasnya keatas meja.

           ”kira-kira dia masih pake jilbab gak yach? ”

tambah Fifi sambil membayangkan sahabat kecilnya.

*****



            Bel pun berbunyi, dengan cepat seluruh murid - murid memasuki kelas dengan terburu-buru dan mengisi semua bangku yang kosong. Suasanapun menjadi gaduh sampai……..

            ”Selamat pagi anak-anak…..!”

Teriak pak Karim sambil memukul meja dengan wajah sangarnya. Dalam sekejap suasana menjadi hening. Tak lama kemudian masuklah seorang gadis cantik dangan tinggi badan yang semampai dan gayanya yang modis sehingga membuat semua mata tertuju padanya.

           ”Pipit……” bisik hatinya.

           ”Oiiiia….anak-anak sekarang kita kedatangan teman baru dari Amerika ”

Jelas pak Karim dengan nada yang sangat ramah. Seketika suasana menjadi riuh kembali.

             ”Apakah benar Pipit? ” Bisik hatinya bertanya-tanya sambil terus memandangi gadis itu tanpa berkedip sedikitpun.

             ”Tenang anak-anak, sekarang kita beri kesempatan dia untuk memperkenalkan diri ” Tegas pak Karim.

Wanita itupun berjalan ketengah kelas.

            ”ok, my name is Anglea borjk, kalian bisa panggil aku Angle ” jelas wanita itu memperkenalkan diri.

            ”katanya orang Amerika, koq bisa bahasa Indonesia “

Teriak salah satu murid dengan suara lantang dan seketika tawa ledekan meledak dikelas itu kecuali Fifi dan Fadil yang hanya menggelengkan kepala mereka. Spontan gadis itu menjawab.

            ”Soalnya dulu aku pernah tinggal di Indonesia ”

            ”Terimaksih atas perkenalannya dan saya harap kalian bisa bekerja sama dengan baik dan silahkan Angel untuk duduk disebelah Rasti ” Sela pak Karim sambil menunjuk bangku kosong di belakang.

            ”Mm..  maaf pak boleh gak saya duduk disana? ”

pinta Angel sambil menunjuk kearah Fifi.

Fadil yang menyadari hal itu dangan spontan berkata.

           ”Tapi pak inikan tempatnya Fifi ”

           ”Soalnya kalau aku duduk dibelakang penglihatanku kurang jelas ” sela Angel.

           ”Pak gak pap koq aku aja yang duduk dibelakang sama Rasti  ” tawar Fifi sambil mengemasi buku-bukunya dan berjalan kearah bangku disebelah Rasti, sedangkan Fadil hanya diam memandang Fifi pergi menjauh.



*****



           ”Kamu yang namanya Fadil yach? ” sapa Angel da\engan lembut.

           ”Loe tau nama gw dari mana? Kenalan aja belom………”

           ”Ya…….taulah, secara semua cewk disini ngomongin loe mulu ” jelas Angel sambil tersenyum manis.

           ”…………..”

          Pembicaraanpun terhenti, Fadil tetap meneruskan tugasnya. Suasanapun menjadu sepi, semua anak tampak serius mengerakan tugas. Angel mengeluarkan dan menuliskan beberapa kata dan menyerahkannya pada Fadil.













Namun Fadil tetap mengerjakan tugasnya tanpa menghiraukan Angel, karena Fadil merasa kesal iapun berbicara dengan lantang.

           ”Koq loe diemin gw sich ?gw kan Cuma mau nanya”

Semua mata tertuju pada mereka begitupun Fifi yang merasa terganggu dengan kebisingan yang mereka buat. Fadil menghentikan pekerjaannya sambil melirik ke arah Fifi dan berkata.

           ”Iiia….gw tau tapi ini buka waktu yang tepat, loe udah ngerjain tugas pak Karim lom?”

           ”eU…..belum…”

           ”ya udah sekarang kita ngerjain bareng aja ”





*****

 



















































  














Sepulang sekolah udara Jakarta terasa panas membakar kulit dengan matahari yang seolah berada diatas ubun-ubun. Seluruh siswa SMA Bakti II berduyun-duyun keluar dari kelas mereka. Digerbang sekolah Angel sedang dikelilingi oleh para pria yang tergila-gila akan kecantikannya. Sementara itu Fifi dan Fadil sedang berjalan menuju mobil yang berada diparkiran sekolah.                                                                           

          ”Fadil……..”

Teriak Angel sambil menghampiri mereka berdua. Fifi dan Fadil mencari sumber suara itu dan…

          ”Fadil gw pulang bareng loe yach!”

Pinta Angel sambil mengatur nafasnya.

          ”eu….giman yach?”

          ”ya udah kita bareng aja kalau bertiga kan lebih seru”

sela Fifi sambil membukakan pintu untuk Angel.

            Dalam perjalanan mereka hanya membisu, hingga desir angin seolah tak rela denga kesunyian tersebut….

           ”kalian berdua deket bnget yach ! kalian pacaran yach?”

Tanya Angel memecakan keheningan.

           ”Ah…nggak koq kita Cuma sahabatan”

Jelas Fifi terkejut, sementara Fadil tak merespon hal tersebut.Tak lama kemudian mobil terhenti didepan rumah Fifi yang sederhana, dengan halaman yang relatif kecil dan cat putih kusam.Perlahan Fifi menuruni mobil tersebut.

            ”fadil ………thanks yach!”

Ucap Fifi sambil melambaikan tangannya Fadilpun tersenyum dan langsung menghilang dari pandangannya……



*****



          “Assalamu alaikum……………”

Tak terdengar suara jawaban karenanya perlahan ia melangkahkan kakinya dan membuka pintu. Terlihat olehnya ruang tamu yang seperti kapal pecah,ia memandangi keadaan yang gak biasa itu dengan heran. Tak lama kemudian terdengar olehnya isak tangis taw lirih seorang gadis. Karena penasaran ia mencari dan berjalan menuju sumber suara.



Namun……..

Tiba-tiba ponselnya berdering memudarkan ras penasarannya. Ia segera membuka pesan dengan pengirim bernama cocoroberry ia tersenyum dan langsung membukanya

         cocoroberry 

         fi……maPh yUa td Ue

         ln9sUng baX!l coZ uE ta9

         eNk ma c!e angel,

         loe ta9 mRh kn????

Setelah selesai mambaca ia melemparkan ponselnya keatas  ranjang dan merebakan seluruh tubuhnya, membiarkan tergeletak rapuh untuk menghilangkan rasa lelahnya…..



****





  “koq gak di bales sich? “

Bisik Fadil dalam hati sambil mengemudikan mobil mobil menuju rumah Angel. Ia tetap terdiam nenikirkan hal itu, Angel yang memperhatikan sifatnya merasa tidak nyaman karena Fadil tampak begitu bingung dan seolah terganggu oleh kehadirannya.

            “Kenapa sieh loe ? Dari tadi diem mulu “

tekas Angel mencoba mencairkan suasana yang begitu kaku.

            “Oh…….nggak,gw cuma takut Fifi marah ” jelasnya.

            “Loe suka yach sama dia??”

Angel kembali bertanya dengan suara lirih. Namun Fadil tak berkata sedikit pun dan terus mengemudikan mobilnya. Tak lama kemudian mobil terhenti di suatu rumah bergaya prancis dan halamannya luas dengan didominasi warna putih dan pintu gerbang yang begitu besar membuatnya nampak seperti sebuah kastil.

            “This is my home…” Angel turun perlahan.

Ia tersenyum manis sehingga membuat pipinya merona pink membuatnya terlihat sangat anggun ditambah rambut panjang keriting pirang yang dibiarkan tergerai, kulit putih dan rok yang minim membuat Fadil tak mampu berkedip,namun Fadil berusaha mengalihkan pandangannya dan melanjutkan perjalanannya.



*****



Suara isak tangis dan tawa itu semakin geram sehingga Fifi tak mampu memejamkan matanya. Ia pun menuruni ranjang dengan bertelanjang kaki dan mencari kerudung bergo untuk menutupi rambutnya. Perlahan ia berjalan dan kembali mencari sumber suara, tak lam berjalan ia menemukan sumber suara di sebuah ruangan tertutup yang masih asing baginya, lalu ia membuka pintu sambil menutup mata dan memasuki ruangan tak begitu besar di dekat dapur rumahnya. Perlahan ia membuka matanya, gelap…..itu yang ia rasakan karena ia merasa takut,ia memutuskan untuk pergi namun langkahnya terhenti kerena pintu di hadapannya tertutup secara tiba-tiba.

            “ibu…..ibu…..”

teriakannya ketakutan sambil memukul-mukul daun pintu tiba-tiba, lampu menyala kembali.

            “selamat ulang tahun…..”

seketika Fifi membalikan tubuhnya dan berlari memeluk ibunya.

            “i…ibu…….”

katanya manja,ia sangat bahagia karena seumur hidupnya tak pernah sedikit pun ia merasakan ulang tahun sampai ia sendiri lupa kalau hari ini adalah ulang tahunnya.

            “Pipit sekarang usiaku 17 tahun”


bisik hatinya sambil menatap tumpukkan kado dan kue tart dihadapannya .







Sementara itu Angel sambil terdiam sambil menangis memandangi bintang. Ia kesal karena selama ini orangtuanya belum pernah menghabiskan waktu bersamanya. Walaupun ia terlahir dalam keluarga yang serba ada, tapi tetap aja ia merasa kesepian. Karenanya seringkali Angel melampiaskan kemarahannya dengan menenggak pil ekstasi. Baginya wajah cantik dan harta yang melimpah tak menjamin sebuah kebahagiaan. Begitupun malam ini ia merasa kesepian, ia menangis, tertawa, teriak memecah kesunyian. ampai semilir angin terasa semakin merebab, teriak Angel melemah-melemah dan mengilang.

Fifi terbangun dari tidurnya ia terdim sejenak dan langsung melangkahkan kaki-kakinya menuju kamar mandi. Ia membasuh wajahnya dengan kesejukan air wudhu. Suasana hening dalam kesejukan sholatnya, mata indahnnya tampak berkaca-kaca wajahnya memerah. Tak lama kemudian beningnya butiran-butiran mata melintas dengan deras di pipinya.



Ya Allah……..

Ampunilah dosaku,dosa hamba Mu yang nista ini……

Dosaku tak terhitung ya Allah….

Bagaikan debu….

Ya Allah…..

Aku bersalah……

Aku durhaka….

Ya Allah…

Hati kecil ini telah lancang…

Telah lancang menciintai ciptaan Mu ya Allah…

Aku takut perasaan ini akan jadi bumerang untuk ku ya Allah…

Jangan biarkan kecintaan ku pada ciptaan Mu melebihi cinta ku pada Mu dan

rasul Mu wahai Rabb ku…..

Aku hanya ingin selalu dalam llimpahan rahmat dan ridho Mu ….

Amin….



Ia menyudahi sholatnya, dan langsung membantu ibunya menyiapkan sarapan dan beberapa pesanan makanan yang biasa dititipkan dari toko ke toko. Kali ini pesanan hanya sedikit hingga tak memakan banyak waktu untuk mengerjakannya dan ia segera bersiap-siap unttuk melawan waktu dan menguras fikiran di sekolah.



*****



Fifi terdiam sendiri di dalam kelas, biasannya ia sedang berbincang seru dengan Fadil tapi kali ini Fadil belum datang, karena tak seperti biasanya mereka tak pergi bersama. Sesekali Fifi melirik ke arah jendela mencaari keberadaan Fadil.

“Eeh….Fi udah bikin pr biologi lom? ”

            “Astagfirallah……”

Fifi terkejuut sambil mengusap dadanya.

            “Rasti!! klo aku jantungan gimana? “

            “Sssorry………..sorry………”Jawab Rasti cengengesan.

            “By the way ….loe kenapa fi………..? Dari tadi cemas banget…”

Tanya Rasti sambil menyentuh kening dan pipinya, tapi Fifi tak menjawabnya dan tetap melirik ke jendela. Tak lama kemudian Fadil datang dengan gaya khasnya. Fifi pun tersenyum puas dan meneruskan tulisannya.

            “Fadil………… Fadil………….”

Angel memanggil Fadil sambil berlari-lari.

            “Apaan sech …………..!!! “

gerutu Fadil tak menghiraukannya dan terus berlalu menghampiri Fifi.

Seketika Anggel terdiam, matannya nampakn berkaca-kaca.

            “Fi…………..””

Sapa Fadil Mengahampirinnya, Fifi mengangkat wajahnya, sejenak mata mereka terjebak dalam tatapan yang membingungkan.

            “Ini buku loe yang gw pinjem kemaren “

Fadil menyerahkan buku yang di pinjamnnya.

            “Fi………… Tadi gw kerumah loe ” Tambah Fadil

            “UpsZ……… Sorry….. sorry…….” Jawab Fifi cengengesan.

            “Lain kali kalo mau pergi pagi-pagi banget kabarin dong “

Fadil mengucap kepada Fifi yang dibalut oleh jilbab dan langsung pergi…………..

Dari kejauhan Angel terus Memperhatikan keakraban mereka karena ia tak tahan. Ia pun pergi berlari sambil menangis, tak lama ia sampai di toilet.

Ia pun menangis dengan sangat keras……….

            “Loe kenapa ? ” Tanya Saskia yang baru saja datang

Namun Anggel tak menjawab dan terus berteriak, perlahan Saskia mendekat dan memeluknya…………..

“Gw tau pasti karna Fadil “

            “Fadil itu Cuma luluh sama satu orang, yaitu si Fifi sahabatnya, jadi kalo loe pengen deket sama Fadil, loe deketin Fifi dulu, gak susah kok deketin si Fifi ! “

Jelasnya, suara tangis Angelpun mereda dan ia membalas memeluk Saskia.

            Angel tak mengerti dengan apa yang ia rasakan, baru kali ini ia marasa nyaman jikalau dekat dengan Fadil dan marah bila melihat Fadil bersama orang lain selain dirinya.

            “Apakah Aku cinta dia ?? ” bisik hatinya.

            “Ah gak mungkin baru kemaren ketemu masa langsung cinta “

  Bisik hatinya kembali, tiba-tiba…………….

            “Hai Angel………….. kenapa ?? kok diem aja, lagi ada masalah yach ?”

Tanya Fifi sedikit mengejutkan Angel.

Angel melirik kearah Fifi seolah mencari letak kelebihan Fifi yang membuat Fadil luluh dan mau melakukan apapun untuknya.

            “Fi……….”

Panggil Angel lirih, menyadari hal itu Fifi pun langsung duduk disebelah Angel yang biasa ditempati oleh Fadil.

“Apa loe suka sama Fadil ? ” tanya Angel ragu-ragu.

            “Eu……….engak kok, kan udah dibilang Aku dan Fadil hanya sebatas sahabat “

Jelas Fifi sedikit gugup kebisuanpun mendominasi suasana Angel terdiam dan sesekalli melirik kearah Fifi yang sedang melihat-llihat buku Fadil yang bereda di depannya. 

” Fi….loe marah gak kalo gw bilang gw cinta sama Fadil “

            ” Kenapa harus marah? Malah Aku seneng “

            ” Jadi loe pasti mau dunk bantu gw “

            ” Selama Aku bisa kenapa enggak? “



*****



            Sepulang sekolah Fifi di undang untuk datang kerumah Angel hingg ia menolak ajakan Fadil untuk pergi ke tokoo buku. Mereka berdiri di depan gerbang sekolah, tak lama menunggu sebuah mobil BMW warna hitam terparkir di depan mereka. Dengan seorang pria berpakaian rapih seerba hitam dan kaca mata hitam yang memberi kesan layaknya searang mavia dalam film-filllm action, Fifi pn takut melihatnya.

            “tenang aja supir bokap gw bae koq….”

Angel menenangkannya, lalu orang berbaju hitam itu membukakan pintu mobil dengan ramah. Angel dan Fifi pun masuk ke dalam mobil mewah itu, kesejukan mambelai wajah mereka yang memanas karena kepanasan.

            Tak lama kemudian mobil terhenti, pria berbaju hitam itu membukakan pintu mobil kembali. Mereka pun keluar dan pria itu pun menundukan kepalanya sambil tersenyum ramah, Fifi terdiam melihat pintu gerbang yang begitu besar perlahan pintu gerbang itu terbuka dengan sendirinya dan terlihat rumah yang begitu besar bagai Istana.

            Fifi masih terdiam tak lama kemudian ia melanjutkan langkahnya, ia memasuki ruang tamu yang begitu besar dari ruang tamu miliknya begitupun dengan kamar mandi, dapur dan ruang keluarga.

            Saat dia melintasi ruang keluarga, dia melihat bingkai foto yang sangat besar di atas perapian.

            “Pipit………..”

            “Ah………..bukan…….. itu gw, lagi gw masih kecil ” Jelas Angel.

Namun Fifi tetap tidak percaya, karnanya ia mandekati foto itu untuk memperjelas, matanya terbelalak tak berkedip.

            “Benar Angel adalah Pipit……..Sahabatku ”

Bisik hatinya tak percaya saat melihat kalung yang dikenakan dalam foto, kalung buatan Fifi yang terbuat dari bunga rumput, ia membalikan tubuhnya dan berjalan ke arah Angel dengan mata berkaca-kaca dan terus manatapnya.

            “Pit………. ini aku “

Bisik hatinya sambil terus menatap wajah manis Angel.

            “Kenapa…….”

Tanya Angel sambil berjalan menjauh dari Fifi dan mendekati ke arah foto besar itu

            “Ada yang aneh ?? ” tambah Angel.

Terus memperhatikan foto besar itu.

            “Pit…….. kamu nggak ngenalin aku ? “

Desah Fifi berkaca-kaca.

            “Heh…..!! kok ngelamun………”

Tanya Angel yang menyadari kalau pertanyaannya belum di jawab.

            “Ah…….. Eu…….. gak ada yang aneh kok “

Jawab Fifi yang terkejut dan melanjutkan langkahnya menuju kamar Angel di lantai teratas.

*****



            “Ngel……… ini kamar kamu ? “

            “YupzZ………….. ‘

Jawab Angel sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur yang terbuat dari sutra dan batu mulia. Fifi pun mengahampirinya dan duduk di sebelah Angel sambil marasakan betapa lembutnya ranjang tersebut.

            “Fi……… ” Lirih Angel.

            “Aku sedih…….. Aku benci semua ini “

            “Kenapa ? Kamu Cantik dan Tajir pula, apa yang kurang? “

            “Gw benci sama Ortu gw yang gak pernah ngertiin gw “

            “Bukan gak peduli, tapi mereka bekerja untuk kebahagiaan kamu juga Kan “

Jelas Fifi sambil memeluk dan membelai rambut Angel. Matanya nampak berkaca-kaca

            “Ya Allah inikah Pipit sahabatku ?  Seorang gadis manis dan lugu, tapi kalau benar  ini Pipit sahabatku, kenapa berubah manjadi gadis seperti Angel, ya Allah aku ingin Pipit ku yang dan gak menyamar sebagai Angel ” Bisik Fifi dalam hatinya.

Fifi terus memandangi wajah Angel seolah tak percaya kalau Pipit telah mengingkari janjinya dan menjadi seorang Angel.

            “Karena itu Fi……….. saat Aku liat Fadil  dia beda dia baik dan Aku pikir Aku akn mendapatkan cinta yang gak pernah Aku rasain selama ini, dan Aku berharap kalu kamu mau nolongin Aku “

            “Walaupun aku mencintai Fadil tapi demi kabahagiaan Pipit sahabatku, apapun aku rela lakukan untuknya ” Bisik hatinya.

            “Insya Allah…………………” Jawab Fifi mantap.



*****



            Keesokan harinya Fifi kembali di undang untuk datang kerumah Angel, dengan memakai pakaian seragamnya Fifi mulai petualangannya merubah Angel menjadi wanita yang disukai Fadil.

            “Sekarang dimulai dari apa ? “

Tanya Angel sambil memegang kedua pipinya yang memerah.

            “Mm……….. Fadil itu orangnya simple semua laki-laki menyukai wanita sexy tapi dia berbeda dia suka wanita yang lembut dan berjilbab ” jelas Fifi tentang Fadil.

Yang sebanarnya dia hanya mengarang tentang hal itu karena ia ingin mangubah kembali Angel si cewe sexy menjadi Pipit si gadis lugu dan cantik.

            “Jadi gw harus pake jilbab dong ? ” Tanya Angel terkejut.

            “Iyah…………… “

            “Tapi aku nggak punya yang kaya begituan !! “

            “Aku tau……. kamu pake punya aku aja “

Kembali Fifi menawarkan jasanya sambil manyerahkan sepasang pakaiannya, Angel pun mangambilnya dan langsung mancobanya di hadapan Fifi.

            “Dulu………. gw pernah make beginian tapi setelah gw pergi ke Amerika gw lepas soalnya gw dibilang cupu, bayangin aja cewe yang masih perawan itu dibilang cupu apalagi gw yang pake jilbab, jadi gw putusin tuk buka kerudung ” jelas angel sambil memutar-mutarkan tubuhnya didepan Fifi

            “Cantik !!! “

Fifi mengangkat jempolnya.

            “Loe yakin Fadil suka sama gw “

            “Aku harap kamu jadi diri kamu sendiri, karena kamu akan lebih mengenal Aku “

            “Tapi gw jadi cupu kaya loe “

            “Yakin ! Angel… “

pandangan Fifi tetap tertuju pada Angel.

            “Pipit… “

bisik hatinya yang akhirnya melihat sosok Pipit yang sebenarnya dalam diri Angel, dan lagi-lagi matanya berkaca-kaca, ia sudah tak sabar ingin memberitahu kalau dia adalah sahabat kecilnya



*****

            Suasana dalam kelas sangat gaduh, tampaknya Pak Widodo guru yang terkenal paling killer itu gak masuk kelas karena burung beo kesayangannya jatuh sakit, jadi anak kelas 12a pun sangat bergembira dan sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing, Fifi yang duduk disebelah Rasti terlihat sedang mengerjakan tugas yang diberikan Pak Widodo karena keabsenannya itu sementara Fadil hanya diam sambil mendengarkan beberapa lagu dalam mp3 hpnya itu, tiba-tiba……….

            ” Assalamu’alikum….. “

pintu terbuka dan terdengar suara merdu dan fasih seorang gadis, suara gaduh dalam kelas lenyap seketika, serentak semua mata berpaling ke sumber suara, terlihat sosok seorang gadis putih berjilbab dengan tinggi semampai memasuki kelas, mata teduhnya terlihat sangat indah, Fifi nampak tersenyum bahagia, wanita itu berjalan mendekati Fadil sambil tersenyum manis, Fadil pun berdiri dan meletakkan ponselnya yang digenggamnya ke atas meja, ia menatap wanita itu dan…..

            “Angel….. ??? “

ucapnya tak percaya sambil tak henti memandangnya, dari kejauhan senyuman bahagia di wajah Fifi berlahan menjadi senyuman pasi tak berarti, jantungnya berdebar keras perlahan air amtanya mengalir deras membasahi pipinya.



*****



Istirahat pun tiba, Fifi terdiam sendiri di teras belakang sekolahnya sambil menikmati alunan suara gemericik air hujan, ia terlihat membawa tumpukan buku Islami yang hanya dipandangi olehnya, fikirnya melayang

            “Fi….. “

tiba-tiba Angel datang menghampirinya, Fifi menolehkan wajahnya dan segera menghapus genangan air mata di pipinya dan tersenyum hampa.

            “Fi kok Fadil liat gw biasa aja sich ” tambahnya.

Dan langsung duduk di sebelahnya

            “Ya… butuh waktu lah Pit… upzZ… Ngel ! ” jawabnya.

Tak sadar hingga ia tak sengaja menyebut Angel sebagai Pipit.

            “Truz kapan ? ” tanya Angel manja.

Ia tak menyadari kata Fifi yang menyebutnya Pipit.

            “Sabar aja………. ! ” jawab Fifi singkat sembari mengambil salah satu buku Islami di hadapannya. Angel tampak kesal dengan hal itu baginya kelakuan Fifi yang seperti itu seolah tak menghiraukan kata-katanya karenanya tanpa permisi Angel pun berlari meninggalkan Fifi, walaupun Fifi menyadari hal tersebut ia tetap diam seribu bahasa, hingga waktu isturahat telah berakhir Fifi tetap tak bergeming dari tempatnya.

            Hujan semakin deras suasana kelas begitu sepi, setengah jam berlalu Fifi belum juga memasuki kelas, Fadil tampak sangat khawatir sesekali ia melirik ke arah pintu.

            “Gak biasanya seorang Fifi bolos sekolah ” bisik hatinya.

karenanya ia tak mampu menahan hasrat hatinya untuk keluar dan mencari Fifi, maka tanpa fikir panjang ia langsung pergi sambil berlari

            “Fadil….. ” Teriak Angel.

ketika melihat Fadil berlari keluar, sebenarnya ia ingin mengejar Fadil tapi ibu Ike guru biologi terkiller kedua setelah pak Widodo telah berada di tempatnya, terpaksa ia mengulurkan niatnya dengan penuh kecewa.

            Fadil terus berlari, dalam fikirannya hanya ada Fifi dan mencari dimana keberadaannya, ia mencari laboratorium kimia yang biasanya Fifi selalu disana untuk mencari tahu kadar racun suatru makanan, tapi pintu lab terkunci, kembali ia mencarinya di masjid tapi tetap tak ada, Fadil terus berlari menelusuri lorong gelap yang berujung pada teras-teras belakang sekolah, ia hentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya karena ia berfikir…

            “Gak mungkin Fifi ada disana “

namun saat ia melangkahkan kakinya ia mendengar sayup-sayup suara rintuhan wanita yang terdengar sangat lirih, sejak ia tediam untuk memastikan suara itu, setelah ia merasa yakin ia pun langsung berlari menuju sumber suara, dari kejauhan terlihat wanita berjilbab sedang duduk membelakanginya, perlahan ia berjalan mendekati wanita itu, namun wanita itu tak menyadari kehadiran Fadil yang sedang berdiri di belakangnya, tak lama kemudian suara itu terhenti dan seketika suara menjadi sepi hanya suara hujan yang mendominasi.

            “Fi….. ” sapa Fadil sambil menyentuh punggung Fifi.

ia pun terkejut dan langsung menghadapkan wajahnya kesumber suara.

            “Loe… na… nangis ! ” tanya Fadil.

kemudian jongkok menatap wajah manis Fifi yang berlinang air mata. Pipi pun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menghapus air mata dipipinya.

            “Fi…… “


Fadil simpatik melihat fifi yang biasanya ceria kini tampak mendung oleh rintik-rintik air mata. karenanya fhadil segera menarik lengan Fifi dan membawanya keluar dari tempat itu.



           

“Fi….. lo kenapa ? ” tanya Fadil penasaran.

Sembari duduk di bawah kursi tempat duduk fifi, tapi Fifi tetap bungkam hanya menggeleng-gelengkan kepala.

            “fan ! kamu bolos ? “

            “iyach “

            “kenapa ? ”

            “gw ngga tenag Fi…. loe ngga biasa bolos “

            ” ………… “

            “loe kenapa Fi….? “

“aku juga nggak ngerti Fad, tiba-tiba aja aku sedih  truz pengen sendiri aja “

            “duh…. loe itu, bikin gue cemas tau ! “

Fadil dan Fifi pun pergi menuju kelas.

            “Assalamu’alaikum…….. ” Fadil dan Fifi memasuki kelas.

            “Uh…….. untung Ibu Ike udah kelar “

Fadil mengusap dadanya dan langsung duduk di tampatnya, Seluruh siswa SMA Bhakti II kini tengah bergembira, Karena Ibu Yosi alias Ibu Pratu bin perawan tua yang cerawet banget itu telah berhenti mengajar kerena akan menikah dengan pengusaha tua berumur 65 tahun.

            “Dari man aja………… ”  Tanya Rasti.

ketika Fifi mulai duduk disampingnya.

            “Eum……….Dari belakang “

            “Ngapain ? “

            “Duduk-duduk aja “

            “By the way loe kenapa Fi ? “

            “Gak tau nich aku lagi pengen sendiri “

            “Kok bisa sich ? “

            “Rasti aku gak tau…………!!! “

            “Cinta………… iya…………. pasti karna cinta “

            “Cinta………??? ” Fifi mengerutkan alisnya penuh dengan tanya.

            “Gw yakin kalo loe lagi jatuh cinta ” tekas Rasti sambil mencubit Fifinya.

            “Iihh………. apaan sich……….” Fifi membalas dan terus saling membalas.

Mereka berdua tampak bahagia dari kejauhan Fadil yang duduk di sebelah Angel terus memperhatikan hingga terkadang Fadil pun tersenyum.

  


























































































Keesokan harinya Angle datang lebih awal tidak ada yang tahu apa yang ingin ia lakukan, wajahnya tampak terlihat sangat marah, hingga ia manabrak tiga bendera pembatas jalan saat ia memarkirkan mobilnya yang berwarna pink itu.

            Angle pun melangkahkan kakinya cepat dan menghentakannya ke lantai, namun langkahnya terhenti dihadapan tiga orang cewek imut yang menghadang Angle menatapnya tajam tanpa bicara, nampaknya ia merasa kesal wanita itu tak juga menyingkir dari hadapanya maka ia menaikan wajahnya sambil berkata.

            “Heh……… !! mau loe apa sich ?? ”

Seketika tiga wanita itu berjalan memutari Angle sambil memandangnya penuh rasa jijik.

            “Heh……… loe cupu banget sich ” kata salah satu wanita itu sambil mendorong Angle dengan lima jari lentiknya.

“Brukh…………..” Angle terjatuh ke lantai.

“Loe mau banget yach di jadiin gembel begini sama si Fifi ” kata yang lainnya sambil menarik jilbab Angle.

“Dasar CUPU………………..”

yang lainnya sambil berjalan menjauh serentak semua orang yang menyaksikan kejadian itu pun mengikutinya dan berteriak.

            “CUPU……. CUPU…………. CUPU……………”

karena Angle tak tahan ia pun langsung berdiri dan berlari sambil menangis. Sementara itu Fifi dan Fadil masih berada dalam mobil yang terjebak dalam macet.

            “Fi……… loe kenapa sich ? ” tanya Fadil sambil mengemudikan mobilnya

            “Gak tau tiba-tiba aku kaya gini aja, tapi kata Rasti aku lagi jatuh cinta ” Jelas Fifi sambil memutar-mutar pulpen yang di genggamnya.

            “Hah…….. loe jatuh cinta ” Fadil terkejut mendengar kata-kata Fifi.

Fifi menganggukan kepalanya perlahan.

            “Siapa orang yang beruntung itu Fi………..?? ” tambah Fadil penasaran.

            ” ………………. “

            “Andaikan kamu tahu Fadil…….. aku jatuh cinta sama kamu ” Bisik hatinya.

Sementara Fadil terus mengemudikan mobilnya.

            Sesampainya di sekolah bel pun berbunyi hingga membuat Fifi dan Fadil harus berlari di lorong agar tidak terkena hukuman Pak Karim yang mendapat jam pertama.

            “Alhamdulillah……… ” Fifi mengusap dadanya.

Sambil mengatur nafasnya ketika melihat kelas masih gaduh dan pak Karim belum juga hadir, Ia pun segera menuju tempat duduknya di sebelah Rasti dan begitu pula dengan Fadil duduk di sebelah Angle.

            “Loe kenapa Ngle……….? ” Tanya Fadil ketika melihat Angle terdiam dan menundukan kepalanya.

            “Loe bae-bae aja kan………..” tambah Fadil memastikan.

Namun Angle hanya terdiam tak bergeming sedikitpun, pandangannya tampak sayu.

            “Udah kalo nggak mai cerita “

Fadil mengambil beberapa bukunya dan meletakannya di atas meja.

            “F……………Fadil……… “

Angle menghadapkan wajahnya sambil memegang tangan Fadil dengan sangat erat.

            “Apa-apaan sich loe……..” bentak Fadil sambil menarik tangannya.

            “Fad……… please dengerin gw……….. “

Angle pun menarik tangan Fadil kembali, Fadil pun terdiam.

            ” Fad………. sebenernya gw ngelakuin ini semua buat loe………. “

            “……………………… ” Fadil tetap hanya terdiam mendengarkan Angle.

            “Fad……….. sebenernya……….. “

            “Stop !!!! emang loe ngelakuin apa buat gw ? “

            “Ya………… jadi berkerudung, jadi kaya gini itu semua Cuma buat loe, karena gw sayang banget sama loe, dan gw berharap loe mau nerima gw, please beri gw sedikit ruang di hati loe ” Jelas Angle penuh harap.

Seketika Fadil menarik tangannya dan memalingkan wajahnya ke arah Fifi yang sedang bercanda riang dengan Rasti.

            “Gw nggak bisa Ngle “

            “Kenapa ? “

            “Gw udah terlanjur sayang sama orang lain ” Jawab Fadil sambil berjalan menjauh.

Angle hanya terdiam menatap kepergian Fadil dengan air mata yang tak henti mengalir.

*****

            Tak terasa waktu istirahat pun tiba murid kelas 12A  keluar dari kelas, begitu pun Fifi dan Rasti yang ingin pergi ke kantin.

            Sementara Angle dan Fadil terdiam di tampat duduk meraka, Fadil nampak bingung sabil memegang sebuah surat berwarna biru, Tak lama berfikir ia pun meletakannya di dalam lacinya dan melangkah keluar, Angle mengerutkan keningnya sejenak ia menatap Fadil yang berjalan keluar, kemudian ia mengalihkan pandangannya pada laci tempat maletakan surat biru itu.

            “Pasti itu surat untuk cewek yang bikin Fadil nolak gw ” Bisiknya dalam hati.

Ia pun segera membuka laci dan mengambil surat itu, Sejenak ia terdiam memandangi surat itu, Tak lama kemudian ia membuka surat itu dan membacanya.



Fifi……………

Kaulah cahaya penerang jiwaku

Kaulah embun penyejuk hatiku

Kaulah bintang pedoman hatiku

Kaulah pembangkit semangat ku

Kau hadir dalam hidup ku ketika ku terpuruk dan terjatuh

Yang mambuatku bangkit dari sakit ku

Dan ku ingin kau selalu ada di sisiku

Yang menjadi malaikat hatiku



            “Jadi cewe itu si Fifi……….. ” Bisik hatinya.

Sementara itu Fifi dan Rasti sedang asyik makan bakso.

            “By the way……… loe giman sam Fadil ? ” Tanya Rasti tiba-tiba hingga membuat Fifi memuntahkan makanan yang ada di mulutnya.

            “Duh……… gimana sich Mbak ? Makanya kalau makan hati sama pikiran juga ikut makan, Jangan mulut makan tapi hati sama pikiran loe melayang, Nich………. Minum dulu……….. ” Tekas Rasti sambil memberikan Orange Jus dihadapannya.

            Seketika Fifi pun meminum Orange Jus itu, Setelah merasa cukup ia sudahi sambil mengusap dadanya.

            “A…… apaan sich !! aku sama dia bae-bae aja dan juga cuma sahabatan “

            “Lagian siapa yang bilanga loe jadian, Gw tau kok kalian sahabatan, tapi yang gw gak abis pikir loe kok mau temenan sama cewek so perfect itu, udah jelas dia mau rebut Fadil dari loe “

            “Nggak apa-apa toh Fadil bukan siapa-siapa gw, Just Freind………… “

            “Ah……….. yang bener cuman temen ? Apa loe gak ada rasa sayang ke dia ” Ledek Rasti.

            Namun Fifi hanya diam dan menundukan kepalanya sambil mengaduk Orange Jus miliknya.

            “Nggak Ras……..nggak ! ” Jawab Fifi berpaling dari Rasti menyembunyikan wajahnya yang memerah.

            “Gak mungkin !! secara Fadil itu ganteng, tajir, pinter, rajin sholat pula, apanya yang kurang coba ? perfect Fi…………” Jelas Rasti.

Tapi Fifi tetap terdiam melanjutkan makanya.



*****



BRAKK…………….

            Angle melemparkan cermin kamar mandi dengan tasnya hingga pecah hancur berhamburan, ia melepas jilbabnya dan merobeknya dengan penuh amarah, ia menangis dan mengguyur seluruh tubuhnya dengan air, wajahnya tampak begitu pucat karena Make-up yang selalu membuatnya cantik bersri kini luntur terbawa air, ia sangat matanya terbelalak sambil terus berteriak.

            “AAAAA……….. AAAAAAAAAA…………. “



            “Angle……… “

            “Angle……….Angle………. ” Panggil ibu teti saat mangabsen.

            “Bu……… Angle gak ada di kelas ” Teriak Fadil.

            “Apa…….. “

            Bu Teti membanting buku absen dan langsung keluar dengan marah, Secara Bu Teti guru killer kedua setelah Pak Karim yang alergi banget kalu denger ada anak yang gak masuk pelajarannya, Sementara Fadil hanya terdiam.

            “Kemana itu cewe……. apa marah ama gw ” Pikir Fadil sambil membuka laicinya.

            Kegusaran sirna ketiak melihat surat berwarna biru itu, ia mengambilnya dan meletakannya di dadanya.

            “Fi….. gw harap loe bisa ngerti hati gw ini……… ” Bisik hati Fadil penuh harap.

            Tak lama ia melirik ke arah Fifi dan mereka beradu tatapan untuk beberapa saat dan itu mambuat Fadil gusar dan tak nyaman dengan perasaannya, ia segera menydahi tatapanya.

            “Ya Allah………… inikah cinta ? ” Desahnya.



*****



12.30

            Bu Teti belum juga datang, suasana sangat gaduh semua anak sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, Hanya Fadil yang terliha tak melakukan aktivitas apapun.

Kriiiiiiiiiiinngg…………..

            Bel berbunyi, semua anak keluar dari kelas cepat, dalam sekejap mata tak ada seorang pun di dalam kelas dan suasana manjadi sunyi hanya Fifi yang terlihat di bawah terik matahari, ia terlihat sangat cemas seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

            ” Akh………… ” Teriak Angle kesakitan.

            karena Angle manarik punggungnya sampai terhempas, Fifi hanya terdiam penuh tanya ketika melihat Angle berdiri di hadapannya sambil memegang sebuah balok yang cukup besar dengan penampilan yang tak karuan.

            “Angle……………. ” Fifi mengusap air mata di pipinya.

Angle terdiam ia sangat marah.

            “Angle kamu kenapa…………. ? ” Fifi mengulang pertanyaannya, namun Angle menghindarinya dan berteriak.

            “KENAPA LOE KHIANATIN GW ? KENAPA LOE JEBAK GW DALAM SIASAT BUSUK LOE…………….. KENAPA FI………… KENAPA ?? ” Jelas angle sambil mendorong tubuh Fifi.

            Fifi pun terhuyung dan nyaris terbentur tiang listrik yang ada di hadapannya.

            “Aku………. ? Aku kenapa ? ” Tanya Fifi yang tak mengerti tentang kemarahan Angle.

            “DASAR JABLAY LOE RUBAH PENAMPILAN GW JADI CUPU BEGINI BIAR GW JADI JELEK KAN ? DAN FADIL JADI CINTA SAMA LOE ” Bentak Angle sambil mengangkat balok yang di bawanya.

            “Demi Allah……. aku nggak pernah untuk berpikir kayak gitu ” Jelas Fifi.

            “SETAN SEMUA !!! DASAR LOE IBLIS ” Sentak Angle sambil mendorong tubuh Fifi ke jalan.

            Fifi terhempas ia tak kuasa mengendaliakan tubuhnya yang sedang dilanda kelelahan, Fifi pun terjatuh di tengah jalan yang sadang di lintasi oleh sebuah mobil pribadi berkecepatan tinggi dan.

            “Ahk……… AAAAA……. “

Brak……………..

            Angle terdiam dengan tatapan hampa, balok yang di pegangnya jatuh seketika, Angle manatap tibuh Fifi tergeletak tak berdaya berdaya, ia menjerit histeris, tak lam kemudian orang-orang berdatangan mengerumuni tubuh yang tak berdaya itu, Angle kembali berdiri dan berteriak seolah ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan.

            “Ada apa………….. ? ” Suara syahdu yang terekam jelas di dalam hatinya mengejutkannya, Ia menatap pria itu

            “Gila loe yach !!! ” Bentak pria itu dan langsung mengangkat tubuh yang telah berlumuran darah itu.





 











 












            Angle tetap terdiam dengan pandangan kosong meski kini kerumunan orang telah pergi dan lalu lintas telah berhenti, Ia tak bergeming untuk meninggalkan tempat itu.

            Suasana makin sepi ketika jam telah menunjukan pukul 12.00 malam, Hembusan angin yang begitu dingin membelai wajahnya menyadarkannya akan dirinya yang mengenakan seragam compang camping untuk menutupi tubunya, Karenanya ia berdiri dan melangkahkan kakinya, Namun ia tetap tak manyangka apa yang baru saja ia lakukan.

            “AKU BENCI CINTA ” teriak Angle.

            Setelah ia tiba di rumah megahnya ia terus menangis hingga kegelapan malam membawanya dalam heningnya malam.



*****



            Semantara itu di rumah sakit Fadil terus manangis melihat Fifi yang tak sadarkan diri.

Dret…… dret……. dret…………

tiba-tiba hand phonenya bergetar namun Fadil tak menghiraukannya dan terus mamandangi wajah Fifi yang semakin pucat.

 Bip…….. bib………. bib………….

lagi-lagi hand phonenya berdering, ia segera mangambil dari saku celananya, Tiga panggilan tak mterjawab dan satu pesan yang tertulus dari orang yang sama yaitu Rasti, Ia segera membuka dan membacanya.



From Rasti

Hai Fad………….

Mm……….. loe dmn ? gw nyari-nyari loe nich………..



Namun Fadil tak membalasnya dan langsung mematikan hand phonenya.



*****



            “Eh………. tau gak breking news sekarang ? ” Kata seorang wanita berbadan tinggi dan penuh dengan jerawat di wajahnya yang terkenal dengan sebutan (BIGOS) biang gosip.

            “Ya……. paling tentang kucing pak Karim yang kena penyakit ayan ” Sahut seorang pria yang ikut berkerumun di dalamnya.

            “Ini lebih keren lagi dari kucing pak Karim yang kena Ayan !! Kemaren pulang sekolah si alim Fifi n’ si ratu Perfect Angle berantem di pinggir jalan cuma buat ngerebuti si cool Fadil ” Jelasnya sambil mengambil gorengan dan memakannya.

            “Ah……… yang bener loch !!!! Dasar BIGOS, Jangan ngada-ngada dech, gw kenal banget sama Fifi ” Sangkal Rasti yang saat itu ikut kumpul sama geng blukutuk yang alirannya berlogat Jawa.

            “Eh Ras……….. gw liat sendiri, si Angle ngedorong Fifi ampe jatoh n’ terus ketabrak mobil dech, Liat aja dia gak bakalan masuk sekolah ” Tambah miranda yang juga terkenal dengan BIGOSnya membela diri sambil melahap semua gorengan yang ada di depannya.

            Rasti langsung membanting bukunya ke atas meja kantin dan langsung pergi maninggalkam kerumunan itu.

Kriiiiiiiiiiiinnnnnnngggg………….

            Bel berbunyi membubarkan geng blukutuk untuk masuk kelas mereka yang kebetulan bersebelahan dengan kelas Rasti., Rasti pun mempercepat langkahnya agar tidak terlambat.

WssssssssHhhhh……………

            Hembusan angin menerpa wajahnya, yang membuatnya semakin mempercepat langkahnya.

            “Fifi belum dateng…….. gak kayak biasanya ” Bisik hatinya sambil menurunkan ranselnya dan meletakannya di atas meja, Rasti mengerutkan wajahnya alisnya untuk manajamkan pandangan ketika malihat amplop biru di atas kursi Fifi, Ia mendekatkan pandangannya dan mengambilnya.

Dear Fifi……..

            “Ah Fifi !!! Ini surat buat Fifi ? ” Bisik hati Rasti ketika melihat tulisan tangan di sebelah kanan atas surat itu, Ia segera manyembunyikan surat itu ketika menyadiri Bu Ike guru biologi datang menghampirinya.

            “Fifi kemana Ras ? “

            “Mm…. a…. anu Bu ….. mm….. sakit….. ia sakit Bu “  Jawab Rasti gugup.

            “O………. ” Jawab Bu Ike dan Langsung Pergi.





*****

            Sepulang sekolah Rasti langsung menuju rumah Fifi, namun tak sesuai dengan dugaan rumah Fifi kosong tak ada seorang pun di rumah itu, Ia pun langsung memutuskan untuk kembali.

Drrrrrrrrrrrrret……….. dret………….

            Tak jauh melangkah di rasakan getaran di saku belakang celananya, ia segera mengambil ponselnya dan tampa pikir panjang ia langsung manjawab panggilan itu.

“Hallo………….”
“Rasti………… ?? ” Suara seorang cowok yang tak asing lagi mamotong kata-

katanya, Rasti mengangkat alisnya terkejut dengan suara yang di kenalnya.

            “Hallo Ras…………… ” Ulang suara itu.

            “I……….. iya……….. kenapa ? Mm………. loe dimana Fad ? “

            “Gw di rumah sakit “

            “Apa ? rumah sakit ?? ” Tanya Rasti tak percaya.

            “Yupzz !! loe kesini ya………. temenin gw jagain Fifi “

            “Fi…….. Fifi !!  Fifi kenapa Fad ? “

            “Udah loe kesini aja, entar gw ceritain “

            “Oeea……… di rumah sakit HUSADA Jakarta ” Tambahnya dan pembicaraan terhenti.



*****





Drrrrrrrrrrrrreeet…………… dret……….

            “Sialan…….. ”

Brak………. Angle membanting ponselnya karena kesal, Sudah ke 15 kalinya panggilan tak ada jawaban, Ia terdiam sejenak dan merebahkan tubuhnya.

Bip………. bip………… bip…………

            Ia terperanjat terkejut dengan suara ponselnya, Tanpa pikir panjang ian mengambil ponselnya dan melirik melihat siapa yang membuat ponselnya berdering.

            “Mamih………….. ” Dengusnya kesal dan langsung menekan tombol Yes untuk menjawab panggilannya.

            ” Ya Mom…………… “

            ” Angle Papih kamu kecelakan, dan sekarang dirawat di rumah sakit HUSADA Jakarta……. kamu kesini yach ”

Nut………. nut……… nut……….. pembicaraan singkat terputus.

            “Biar aja mati sekalian “

Katannya menghentakan kaki kelantai dan melajukan mobilnya membelah lalu lintas .

            “Selamat siang ada yang bisa saya bantu ? “

Sapa wanita paruh baya dengan ramah

            “Mmm…..mbak saya mau jenguk pasien yang bernama tuan rasyid “

            “Tuan rasyid di lantai 3 VIP room no.24 “

            “Terimakasih mbak….”

            “Kembali…………. “

Ia segera berlari menuju lift yang berjarak tak jauh dari tempatnya berdiri .Langkahnya terhenti ketika melihat seorang ibu yang lekat di memorinya berjalan dengan tergesa-gesa. Angle pun mengikutinya dari belakang dan….

            “Fadil………??? “

Hatinya peniih tanya ketika melihat seorang ibu yang ia buntuti memeluk Fadil penuh haru. Tak lama kemudian ia tampak terlibat dalam pembaciraan yang serius. Tiga puluh menit berlalu,Angle tetap dalam posisinya bersembunyi dibalik tembok sambil memandangi Fadil dan seorang ibu.

            “Ngapain ??? “

            “My god………….. “

Angle mengusap dadanya terkujut.

            “O…pasti mau jenguk Fifi “

            “Fifi ??? ” Pikirnya penuh tanya

            “Ya udah ngapain dasini ? ayo kita kesana gak usah ragu-ragu………”

Tambah Rasti sambil menggandeng tangan dan menariknya menghampiri Fadil.

            “Hi……………….Fad !! “

Sapa Rasti pada Fadil dengan senyum manis yang melekat di wajahnya. Namun Fadil hanya diam dengan pandangan sinis yang tertuju pada wanita dihadapannya yang tertutup oleh baju yang sangat ketat, yaitu Angle………

            “Eh ……….loe kenapa? “

Tanya Rasti sambil melambai-lambaikan tangannya di wajah Fadil. Namun Fadil tetap tak bergeming. Dan Angle segera melepaskan genggaman Rasti dan berlari menjauh dan kembali mencari kamar ayahnya berada.

tok……….tok……….tok………

kerkhh……..

            “Hallo ……anybody……..there……….. “

Angle membuka pintu dan langsung memasuki ruangan putih yang tampak mewah.

            “Angle…. “

Suara parau wanita memanggilnya, Ia berjalan menuju sumber suara dan dilihatnya seorang laki-laki berbaring tak berdaya dilengkapi dengan alat-alat kedokteran. Ia melirik seorang wanita tua yang ternyata adalah mamihnya sambil menggenggam tangan laki-laki itu, namun Angle tetap memsang wajah sinisnya.

            “Angle………. ini ayah kamu “

Tambahnya sambil menangis pilu.

            “Kenapa dia ?? “

Jawab Angle tanpa ekspresi.

            “Angle kenapa kamu tak perduli ?? dia ayah kamu….ayah kamu………..”

Tambah mamih Angle semakin parau.

            “Ya udah ….cie …….sepele…. “

Jawabnya tak berdosa meninggalkannya mamihnya di ruangan itu.

            “Angle………Aaaangle…………Angle……….´”

Teriak mamih Angle histertis, tapi  Angle tak manghiraukan hal itu dan terus berlalu……..



*****



            Sementara itu di ruangan no.6 lantai 2 tepatnya ruangan dimana Fifi dirawat. Fadil dan Rasti sedang duduk termangu menunggu kesadaran Fifi, tak disadari Fadil meneteskan air matanya…..

            “Fi……….bangun Fi……..gw gak bisa tanpa loe, loe orang terpenting dalam hidup gw. Loe malaikat hati gw Fi…..gw…..gw……cinta loe, gw sayang loe, Fi………….bangun ”

Tangis Fadil sambil terus memandangi wajah pucat Fifi. Rasti yang menyaksikan hal itu hanya terdiam tak percaya.

            “Pi…….Pipit……….Pipit…….”

Fadil dan Rasti terkejut mendengar sayup-sayup suara wanita yang begitu lembut.

            “Pit….Pipit……….. “

            “Loe udah sadar ??? ”

Rasti mengusap kening Fifi dan mendekatkan telinganya untuk memperjelas.

            “Pi….Pipit mana ras ?? ‘

Tanya Fifi dengan suara parau, Rasti terdiam perlahan melirik kearah Fadil.

            “Pipit ??? “

Ulang Rasti penuh tanya, sejenak ia memandang wajah Fifi dan menatap sendu matanya.

            “Siapa Pipit Fad  ? ” Tanya  Rasti

Fadil tetap terdiam seolah mencoba mendobrak kembali ingatannya.

            “Gw tau !!! ” Jawab Fadil penuh semangat .

            “Pipit itu sahabat kecilnya ” Jelas Fadil.

            “Trus gimana kita bisa ketemu dia ?? ” Tanya Rasti tanpa harapan.

            “Mungkin Fifi punya sesuatu yang bisa kita pake untuk nyari Pipit “

            “Gw gak yakin ”

Tak lama kemidian Fifi kembali tak sadarkan diri .

            “Gw  harus bawa Pipit bawa Pipit kesini ” Fadil berapi-api.



*****



            Dibawah terik matahari dn debu-debu yang beterbangan, Fadil terus melajukan mobilnya penuh semangat. Udara nyang begitu panas tak dihiraukan olehnya. Setelah satu jam melaju monilnya terhenti tepat   di rumah yang begitu lusuh dalam  debuah desa….

Mereka melangkahkan kaki mereka ke sebuah pagar terbuat dari bambu, dan segera mambukanya. Tampak begitu banyak bunga mawar di halaman rumah yang begitu sederhana itu dengan sebuah kolam kecil. Yang makin membuat rumah itu semakin terlihat sederhana….

krekh…..

Fadil membuka pintu berukuran sedang dengan kunci yang baru saja diberi oleh ibunya Fifi….

Fadil memasuki rumah itu dengan Rasti yang mengikuti dibelakangnya.

            “Bersih….”

Rasti mengamati seisi rumah bernuansa betawi yang begitu natural.

            “Ras………..”

Fadil memanggil Rasti,

Rasti pun langsung menghampirinya. Ia menunjuk salah satu foto berukuran besar di tengah ruangan kosong. Dalam foto itu terlihat dua orang laki-lakki dan perempuan yang saling bergandengan tangan dan didepan mereka terdapat dua orang anak kecil berjilbab yang begitu manis.

            “Gw yakin itu Fifi……”

Rasti meninjuk salah satu anak kecil itu,

            “Kenapa?? ” Tanya Fadil

Tambah Rasti sambil menunjuk kalung yang dikenakan anak kecil itu.

            “Liat dech Ras yang itu juga megang kalung yang sama ” Singkat Fadil

Rasti terus mangamati foto itu sementara Fadil meneruskan langkahnya,  langkahnya terhenti ketika melihat sebuah pintu tertutup. Ia membuka pintu itu dan melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu, terlihat sebuah kamar wanita yang begitu sejuk, harum dan rapi. Ia menghampiri sebuah ranjang berukuran kecil di pojok ruangan.

            ” Aku suka banget sama dolpin “

Tiba-tiba teringat kata-kata Fifi dalam suatu perbincangan pribadi mereka ketika melihat boneka-boneka dolpin yang berukuran besar sampai yang kecil diatas ranjang itu, Fadil meluaskan pandangannya. Ia terpaku pada tumpukan foto diatas meja belajar yang tak jauh darii ranjang.

            ” Hah..!!!  

Fadil terkejut ketika melihat foto yang tak asing lagi baginya….

            “Inikan foto gw “

Wajah memerah ketika melihat foto dihadappannya, ia tampak tak percaya dangan apa yang ia genggam.

            “Faaaad liat dech………”

Fadil mengusap dadanya terkejut,

            “Fad liat………”

Ulang Rasti dengan nada tinggi, Fadil pun menuruti perintahnya. Ia melihat Rasti membawa sebuah buku yang tampak usang.

            “Buku apa tuch ??? prasati…!! ” Tanya Fadil

            “Ye…Oon lu yech… ini ntu buku diarinya cie Fifi tauuu……….”

Jelas Rasti sambil mengambil posisi duduk diatas ranjang yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Fadil pun mengikutinya dan dudk disebelah Rasti, ia meletakan buku itu diatas pahanya dan membukannya satu persatu. Halaman pertama terlihat foto dua orang anak kcil berjilbab yang tersenyum manis, dibawah foto itu terlihat tulisan tangan………]



akrabnya persahabatan

tidak mengenal jauhnya

jarak yang memisahkan



            “Ini yang namanya Pipit ??? ” Tanya Fadil

            “Gw fikir gito kiq mirip yach…?” Jawab Rasti

            “Udah ah ………..lanjut…..”

Fadil membalik kembali halaman buku diari itu, kosong tak ada coretan. Ia kembali membalik halaman berikutnya, yang ternyata hanya ada halaman kosong begitu seterusnya. Hingga akhirnya ia menemukan Foto seorang gadis muda berjilbab seorang diri, Fadil mengamatinya beberapa saat dan me;lanjutrkan membuka halaman berikutnya, terdapaat sebuah tulisan tangan bertinta biru…







Ya Allah………

ini bukan pertama kalinya

aku mimpiin Pipit,

Ya Allah…….

Aku rindu dia, aku ingin ketemu dengannya,

Ya Allah…………

Tolong pertemukan kami.


 




















” Ini sie gak penting “







Rasti merebut dari tangan Fadil dan meneruskan membuka halamannya….









ya Allah………..                           

aku yakin angle itu Pipit ……………  tadi baru aja aku di undang angle untuk datng ke rumahnya dan aku melihat semuanya……….   semuanya…                              

foto keluarganya….                  

kamarnya……..                           

dan aku janji  akan membawa pipit kembali dalam diri angle…








Ya Allah……..

hari ini ada anak baru dari amerika mirip banget sama Pipit, bedanya kalo Pipit Pake jilbab kalo dia nggak, mungkin aku terlalu kangen sama Pipit sampe cewek dari Amerika bernama Angle ku bilang Pipit

Ya Allah……. aku pengen ketemu Pipit sahabatku…….


 




















Mata Fadil terbelalak membaca isi buku diary Fifi, tak mampu berkata-kata…..

            “Oo….. ini yang bikin Fifi ngalah ” Lirih Rasti tanpa sadar

            “Maksud loe ? ”

            “Masa sie loe gak tau ? ”

            ” …………….”

            “Jadi selama ini loe belom nyadar ?? klo sikap si Fifi nunjukin klo dia suka sama loe, tapi karena dia tau Angle suka sama loe jadi dia ngalah dech…… “

            “Ah yang bener loe ????? ”

            “Loe itu sahabatnya harusnya loe lebih ngerti dia ” Fadil tersenyum sambil menutup matanya.

            “Cinta ku terbalas “Bisik hatinya bahagia

            “Uda ah ……. sekarang kita cari Angle ” Tekas Rasti. Fadil menyetujui hal itu, dan mereka kembali menelusuri panasnya kota Jakarta.





*****



Keesokan harinya Fadil tampak bersemangat langkahnya begitu cepat dan pasti.

“Hi ………Fad….!! ” sapa Didot salah satu teman sekelasnya.

Fadil pun merangkulnnya sambil terus melanjutkan langkahnya.

            “Liat Angle gak ? “tanya Fadil

            “Udah di kelas kali “

            “…..???? “

            “Tau gak Fad tadi Angle berubah banget muaaaakin cantik and seksi aje….. “

Namun Fadil tetap terdiam, tak lama kemudian mereka tiba dikelas, terlihat Angle sedang duduk di kelilingi oleh para pria yang mengaguminya. Fadil pun menghampirinya, suara tawa yang membahana seketika sirna. Fadil menatap Angle tajam begitupun dengan Angle yang mambalas tatapannya marah. Seketika Fadil manggenggam tantgan Angle dan menariknya keluar.

            “Apa-apaan siech loe…?? “

            “Lepasin gw gak?? ”

Brakh………….!!! fadil menghempaskan tubuh Angle ke lantai.

            “Gw…..sakit goblok !! ” Teriak Angle kesakitan

Fadil pun mendekatinya.

            “Pit……… “

            “………. ?? “

            “Pipit……. loe Pipit kan ? “

            “Gw…………. “

            “Gw Tau loe pasti Pipit !! “

            “Iyah itu nama gw, tapi itu masa lalu gw “

            “Tapi sekarang gw butuh masa lalu loe ” Tekas Fadil menarik Angle keluar.

            “Lepasin Gw….. !!! ” Angle manghempaskan tangan Fadil ketika mareka berada di depan gerbang.

            “Please Ngle………… gw butuh loe, biar si Fifi bisa sadar !! ” Jelas Fadil.

            “Maksud loe………. ?? “

            “Fifi terus nyebut nama Pipit yang mana Pipit itu loe “

            “Apa hubungannya sama gw ? “

            “Loe itu Pipit sahabat kecilnya Fifi “

            “A….. apa ? Fifi ?? ” Tanya Angle tak percaya.

            “Fifi terus nyebut nama loe, dia pengen ketemu sama loe Pit !! ” Jelas Fadil.

            “Fifi sahabat kecil gw ?? Gak mungkin….. gak mungkin…… gak mungkin….. gak mungkin……… ” Teriak Angle sambil berlari menjauhi Fadil.

            Namun Langkahnya terhenti di tengah jalan tepatnya di antara ceceran darah yang mengering, Ia menghampiri benda itu dan mengambilnya.

            “Kalung……… ” Desahnya.

Ia merasa tak asing lagi dengan kalumg tersebut, untuk beberapa saat ia mengamati kalung itu. Kalung yang aneh nampak usang seperti sudah bertahun-tahun tak terawat yang terbuat dari benang dan rerumputan kering. Ditengahnya terdapat sebuah liontin berbentuk hati. Perlahan ia membuka gantungan tersebut dan…..

            “Fi…..Fi…..Fifi……….. “

Angle terkejut matanya terbelalak kalung itu pun terkajut seketika….

            “Gw hampir ngebunuh sahabat gw…… “

Teriaknya sambil menangis histeris,

Fadil dan Rasti menghampirinya, Rasti memeluknnya………

            “Sekarang loe harus jenguk Fifi ”

Sela Rasti membelai rambut panjang Angle,

Angle tetap menangis tersedu……….



*****



            “Pit…..Pipit……….Pit…. ” Angle mengangkat wajahnya mencari sumber suara yang terus menyebut namanya,

            “Pit…….. “

            “…………………… ” Angle terkejut melihat Fifi sahabat kecilnya berdiri di belakangnya dengan wjah berseri bagaikan bulan purnama di gelapnya malam.

            “Pit…….aku kangen kamu “

Tambahnya dan memeluknya erat ia menangis terisak dalam pelukannya……..

            “Kamu khianatin aku…. “

            “Fi………. “

            “Kamu ninggalin aku “

            “Fi…………… “

            “…………………………… ” Fifi melepas pelukannya dan duduk disampingnya, ia memegang tangan Pipit erat.

            “Kita sahabat “

Fifi mengangkat genggamannya…..

Namun ia melepas genggaman itu dan berlari menjauh dari Angle….

            “Fi … mau kemana…. “

Angle terus berlari mengejar Fifi yang terus berlari dan menghilang…

            “Fi…Fifi…Fi…. “

            “Non ….non….Angle, bangun non…. “

            “Fifi !!! ah ….bi Inem…? ” Angle terkejut melihat wajah bi Inem yang tengah berada di depan wajahnya,

            “Maaf non….dari tadi non teriak-teriak mulu, jadi karena saya takut ada apa-apa saya massuk aja…. “

Jelas bi Inem seorang pembantu yang selalu setia menemani Angle dalam kesendiriannya.

            “Teriak…??? ” Tanya Angle mengernyitkan alisnya penuh tanya,

            “Iiia……..Fifi………non ! “

            “Fifi ? Oiiia…Fifi… “

            “Siapa Fifi non? “

            “Udah ah yang pasti gak penting buat bibi… “

Angle segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, namun langkahnya terhenti ketika melihat cermin yang begitu besar di samping pintu kamar mandinya….

            “Ini bukan diri gw…” Bisiknya dalam hati sambil melihat bayangan dirinya dalam cermin,

            “Ini Angle …..ini bukan gw… ” Teriaknya hingga menggema keseluruh sudut ruangan, ia melihat tubuhnya yang hanya mengenakan tangtop dan celana pendek atas lutut.

            “Ini bukan diri gw…” bisik hatinya berlanang air mata.

            “Mana rambut hitam lurus gw? Mana mata saderhana gw…….mana….??? “

Ia melanjutkan dirinya keatas lantai,

            “Fi……… ” teriaknya membungkukkan tubuhnya,

            “Maafin gw….. “

            “Maafin gw…………… !!! ” Angle histeris dan terus menangis, ia melepas lensnya yang selalu di pakainya. Ia menggunting rambut panjang pirangnya, ia memotonnng kukunya yang indah dan membuang seluruh make-up nya dan baju-baju seksinya dan meletakannya diruang bawah tanah yang gelap dan berdebu.

Brukh……!!!!

Tumpukan kardus terjatuh berserakan ketika Angle memasuki ruangan itu, ia mengeernyitkan alisnya menatap sebuah bendayang tak asing lagi baginya. Ia duduk disamping benda usang penuh debu itu……….

            “kotak ??? ”  Desahnya dan langsunng membuka kotak itu, ia mengambil kalung bunga rumput yang sama seperti yang ia temukan ditempat ceceran darah yang mengering tadi pagi.

            “Aku bukan Angle………….aku Pipit !!! ” Teriaknya tambah garang sambil memeluk pas foto yang penuh dengan debu, ia berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari ruang bawah tanah yang penuh debu.







*****



From Honey

Aku akan pergi……..

Walau berat ku langkahkan kakiku…………

Walau kau tak mampu………..

Meninggalkanmu……….

Tapi kini………

Aku…….

Aku akan pergi………..



            ” Hah !! sms…….. da……….. dari Fifi ? ” Fadil terperanjat tangannya bergetar tak lama senyumnya berurai melekat di wajahnya.



            From Fadil

Fi………

Kamu dah sembuh ?

Sekarang kamu di mana ?

Aku kesana yach ?

Miss you……….



Setelah membalas SMS Fifi kini ia bergegas mamakai bajunya dan tak manghiraukannya waktu yang ia hadapi ia berlari menuju garasi dan langsung melajukan mobilnya di tengah kesunyian jalan dini hari…….

            ” Kok gak di bales ” Bisik hatinya penuh tanya.

            ” Oo….. mungkin lagi sholat, atau lagi gak ada pulsa, atau……… lagi marah ? ” Pikirnya akan kemungkinan yang ia hadapi, ia terus melajukan mobilnya.

Cahaya keemasan mulai terlihat mamadat dengan lalu lalang kendaraan, ia malewati rumah sakit HUSADA di mana Fifi dirawat.

            Satu jam berlalu mobil terhenti didepan sebuah rumah kumuh di pinggir jalan, tanpa pikir panjang menuruni mobilnya dan membuka pagar reot yang ada di hadapannya.

            ” Assalamu’alaikum……. “

            ” Assalamu’alaikum……. ” Ia mengulangi salamnya karena belum mendapat jawabannya.

            ” Assalamu’alaikum……. ” masih tak ada jawaban.

            ” Gak ada orang de !! di rumah sakit ” teriak seorang pria tua yang melintas jalan di belakangnya.

Deg…

Jantungnya bergetar dan semakin berdetak semakin cepat.

            ” Rumah sakit !!! “

ia segera melanjutkan laju mobilnya, dalam mobilnya ia mengambil ponselnya dan memencet beberapa nomor yang begitu di ingatnya.



            I fold from you………

            You make me like i can stand with you……..

            You make me like i can life with you……….

            I can put your hand……..

            So………. please don’t make me feel down……

           

            “Hallo………. “

            “Ras…. loe dimana ? ” Tanya Fadil.

            “Dimana ? Di skul lach mas……… masa di labing “

            “Fifi ?? “

            “Fifi ?? rumah sakit kalie……… “

            “Lho……… tadi gw dapet sms dari dia “

            “SMS !! emang dia udah sembuh “

            “Itu dia…sekarang gw lagi di jalan abis dari hoznya, tapi gak ada otang tuch “

            “………………..?? “

            “NSP loe ganti yach………?? “

            “kenapa ?? loe suka………

            “Mmm……. dikit “

“Oea loe izinin gw yach……. gw gak skul hari ini, mau ke rumah sakit “

“Iyech………. “

“Ywdh……… By….. “

Nut……… nut…….nut…….



*****



            “Bi………. ” panggil angle semangat.

            “Yach non !! Astagfirullah………. non kenapa ? ” tanya bi Inem penuh tanya melihat Angle yang biasanya cantik kini terlihat kumel tanpa rambut

            “An…… anu bi, saya mau pinjem gamis bibi “

            “Baju gamis ?? ” bi Inem tak percaya ia berjalan memutari Angle yang hanya memakai baju oblong dan celana panjang.

            “Ah……. Bibi jangan liatin aja, cepetan saya gak ada baju panjang nich……. malu auratnya kemana-mana ” jelas Angle mendorong bi Inem ke kamarnya.

            “Masya Allah…….. ada angin apa non, kok non jadi nyari baju gamis ? “

            “Udah cepetan jangan banyak tanya………. ” Angle mempercepat langkahnya.

            “Oo….. saya tau !! non mau tobat beneran yach…… ? “

            “Iiiiiiiiii aaaa….. uadah cepetan….. ” bi Inem langsung segera membuka lemari pakainnya di lihatnya tumpukan baju yang nampak berntakan.

            “Mau yang mana non ? ” bi Inem mengeluarkan baju yang ia miliki

            “Ih…….. bi ini mah kaya emak-emak ” tolak Angle ketika menyodorkan baju berwarna hijau dengan corak bunga-bunga mawar berwarna merah, bi Inem meletakan kembali baju dan mengambil yang la

“Ini…….. !! “

            “Eu….. nenek-nenek !! “

            “Itu……. “

            “Mm……. kumel……. “

            “Hah…. yang ono noh….. aja ya non “

            “Mana ……. ?? “

            “Onoh….. no……… ” bi Inem menunjuk gamis yang berwarna putih yang tergantung di pojok ruangan, Angle menghampirinya.

            “Punya siapa bi…. ? “

            “Bibi ! eh,,,eu… bukan seminggu ada yang naro ini di depan gerbang, bibi fikir nyonyah gak mungkin mao pake baju beginian apalagi enon….. ya udah bibi ambil aja. Niatnya sech…mao dipake kondangan besok… “

            “Dari siapa bi…? “

            “Yah elah…bibi gak tau atuh…tapi maren ada suratnya cuman bibi gak tau isinya pan bibi bisa baca “

            “Mana bi……? ” bi Inem segera mencari surat itu di dalam lemari pakaiannya, tak lama mencari bi Inem sudah menemukan. Ia segera menyerahkannya pada Angel.



            Akrabnya persahabatan…

          Tidak mengenal…

          Jauhnya jarak yang…

Memisankan…

Jagalah aurat mu…

Karena ia lebih berharga…

Dari selautan emas…

Jagalah aurat mu…

Karena ia mahkota terindah untuk mu…

Jagalah aurat mu…



Angle memejamkan matanya…

Seolah mencari sesuatu yang tersembunyi dalam fikiranmnya,

            “Aku punya puisi….. “

            “Apa itu ? “tanya Pipit penasaran

            “Mm…denger yach ! akrabnya persahabatan tidak mengenal jauhnya jarak yang memisahkan…. “

            “Eh…nyindir aku yach ? “

            “Nyindir ?? “

            “Iiiiiia……..aku besok mau pergi…. “

            “Aku tau….. “

            “Ke Amerika lho ! “

            “Aku tau…. “

            “Jadi……..? “

            “Puisi itu biar kamu itu selalu ingat sama aku ” jelas Fifi mencoba menahan air matanya.

            “Mm…Fi…aku takut kamu berubah ” Pipit melemparkan pandangan ke langit

            “Janji yach….jangan buka jilbab ” Fifi berdiri dan mengulurkan tangannya

            “Janji ! ” Pipit menjabat tangannya haru

            “Sebagai tanda persahabatan kita yang abadi…….” tambah Pipit dan langsung memeluk Fifi tangis perpisahanpun tak bisa di elakan lagi…

            “Aku pergi besok ! “

            “Besok….? “

            “Iyach aku tunggu yach…. “Pipit pergi sambil membalikan tangannya.

Angle membuka matanya dan mengusap deraian air mata di pipinya, baru saja ia teringat akan perpisahannya dengan Fifi.

            “Saya kenal kata-kata ini ! ” Angle meletakan surat itu di dadanya dan langsung berlari menjauhi bi Inem.

            “Oiiia…….bi panggil saya Pipit yach ! jangan Angle ” Teriaknya sambil terus berlari,

            “Hah !apa ?? “

            “Panggil saya Pi….pit…. ” ulangnya dengan suara lantang.

            “Pipit??? “bi Inem menggaruk kepalanya penuh tanya.

            “Iyach…”

Angle yang kini merubah namanya menjadi Pipit, terus berlari menuju kamarnya dilantai dua.

            “Welcome my self….”

Pipit berputar-putar di depan cermin ketika ia telah memakai gamis putih pemberian Fifi sahabat kecilnya.

            “Beatiful ??…beatiful !”

Pipit berlari kelantai bawah menghampiri bi Inem.

            “Bibi……”

            “……………………..”

Bi Inem tak mampu berkata-kata hanya diam menatap penampilan Angle. Seorang Angle yang biasa tampil seksi dan glamor, kini menjadi Pipit yang cantik dengan busana muslimahnya .

            “Subhanallah……. cantik bener !! ” bi Inem terus menatap Pipit.

            “Bi……. saya pergi dulu yach “

            “Kemana non Angle……… Eh non Pipit !! “

            “Rumah sakit “

            “ati-ati ya non…….. “

            “Oce……… Assalamu’alaikum ” Pipit mencium tangan bi Inem dan kembali berlari menuju mobilnya yang telah terparkir di depan rumahnya.





*****



Tok…… tok………. tok…………

            “Assalamu’alaikum “

Krekh…………..

            “Wa Alaikum Salam……. Eh nak Fadil ” ibu Fifi membukakan pintu. Fadil pun langsung memasuki ruangan kecil itu sambil mengatur nafasnya.

            “Fi…………. ” lirih Fadil yang melihat tubuh Fifi yang terbungkus selimut berwarna putih dan perban di kepalanya.

Ia mendekat dan duduk di sampingnya, Fadil menyentuh tangan Fifi dengan genggaman erat.

            “Ada apa Fad….. ” tanya ibu Fifi yang seolah tak percaya dengan apa yang terjadi.

            “Gak papa kok Bu…. ” jelas Fadil yang berbohong karenanya dia tak habis fikir denagan keadaan Fifi yang terkulailemas tak berdaya ini yang memberikan SMS perpisahan padanya, dan kini Fadil menatap Fifi dengan perasaan haru.

            “Perasaan ibu gak enak…”

            “Memang kenapa bu? “tanya Fadil protectif

            “Ibu bingung nyari Pipit kemana, setiap malam pasti Fifi nyebut nama itu terus………. “

            “Ibu tau tentang Pipit ? “

            “Yach…… dia itu anak Sumarni waktu ibu jualan es waktu kecil, namun nasib Marni berubah setelah dia nikah sama Rasyid seoerang konglomerat ” jelas ibu Fifi sambil membelai wajah Fifi yang pucat.

            “…………. “

            “Mereka berteman, bersahabat…….. mungkin karena itu ia sanagt merindukan kehadiran Pipit ” ibu Fifi semakin haru sambil mencium tangan Fifi.

            “Yang sabar ya nak……… ibu sayang kamu ” tambahnya dengan terus memeluk Fifi yang terbaring lemas, tak sadar Fadil menitikan air matanya, dan ia segera mengambil ponselnya.



            From Fadil

            Angle gw butuh loe………..

                Sekarang…………..

                Ke rumah sakit yach……… 

              

Fadil mengirim pesan singkat pada Angle, ia terus memegang ponselnya dan berharap dengan balasan yang memuaskan.



From Angle

W di jalan Brooo…..

Macet nich……..



            Mangnya loe dimana………. Fadil membalas SMS dari Angle

Fadil menundukan kepalanya.

            “Apa yang harus gw lakuin ” bisik hatinya.

            “Ya Allah…… jangan biarkan cintaku terus menderita, ya Allah….. izinkan aku tuk melihat senyumanya, aku cinta dia ya Allah ” rintih hatinya memohon kesembuhan Fifi.

Dret….. dret…….. dret………. ponselnya bergetar.

           

            From Angle

                Di pondok gede……..

                Macet banget

                Dah gitu ban gw kempes…….

                Gw bakal telat Fad……….



Fadil meletakan ponselnya di meja kecil dekat dengan Fifi pikirannya masih terfokus pada SMS yang ia dapatkan tadi pagi, ia mengerutkan keningnya mencoba berpikir.



******



            “Elfa………. !! “

            “Hadir bu……. “

            “Fadil…….. Fadillah “

            “Eu….. eu…….. izin bu……… ” jawab Rasti.

            “Izin ? “

            “Katanya mau kerumah sakit “

            “Fifi…….. “bu Teti kembali melanjutkan absennya.

            “Sakit………. ” jawab seluruh siswa kelas XII IPAA serentak, bu Teti kembali membuka absen sebelumnya.

            “Sudah berapa lama Fifi sakit ? “

            “Seminggu Bu………… ” jawab Rasti tegas.

            “Sudah di besuk ? “

            “Ya…… kalo Fadil sama Rasti sih udah bu “sela Amelia melirik ke arah Rasti.

            “Gimana keadaannya Ras ? “

            “Mm………Koma bu, belum sadar sampai sekarang “

            “Oo…………. “bu Teti terdiam, ia menundukan kepalanya raut wajahnya berubah menjadi iba dan rasa rindu, karena bu Teti adalah guru Matematika yang kebetulan sangat mengenal Fifi, tak lama kemudian pelajaran di mulai.



            From Fadil

            Ras loe gy pain ?



Rasti membaca SMS dari Fadil.

           

            From Rasti

            Skul Xalie……..

                Mangnya kenapa ?



Rasti membalas SMS dari Fadil.



            “Kecepatan rata-rata di tentukan sebagai perbandingan antara perubahan jarak terhadap perubahan waktu ” jelas bu Teti dan menuliskannya di Whiteboard.



                                      S

V rata-rata =   

  t

                   S sebagai perubahan jarak dan       t  sebagai perubahan waktu “

Dret…….. dret….. dret……..

            “Aduh pelajaran bu Teti lagi ” gerutu Rasti sambil membuka pesan, ia menundukan kepalanya dan meletakan ponselnya di bawah mejanya agar tak terlihat oleh bu Teti.



From Fadil

                Ntar loe kesini yach…….

                Angle juga gy mw kesini….

                Tp……. mm….. bawa’n makanan yach…..

                Laper nich…….



Rasti membaca SMS dari Fadil.

           

            From Rasti

            KeyzZ……….!!

                Tunggu aj dech…….

                Udah yuA !! bu tEti ni……..

                Bye……..



Rasti membalas SMS dari Fadil.



            “Rasti…….. rasti…….. rasti…….. “

            “Ah…… eu…….. yach bu  “Rasti salah tingkah yang tak menyadari bu Teti tengah memanggilnya.

            “Tolong kerjakan soal di depan !! “

            “Eu……… ” Rasti gugup karena memang ia tak mengerti, sebab ia sama sekali tak memperhatikan penjelasan bu Teti malah SMS’an, dan mungkin itu juga yang membuatnya mengerjakan soal di depank, Rasti berdiri dan melangkahkannya kakinya menuju meja guru, ia mengambil spidol dan mulai membaca soal yang di tulis bu Teti di Whiteboard



            gerakan sebuah benda di tentukan dengan persamaan S = f (t) = 4t – 5 ( S dalam meter dan t dalam detik ) tentukan besar kecepatan sesaat untuk waktu t = 2 detik.



Rasti tersenyum ia merasa mengenal bentuk soal seperti ini, karena seminggu lalu Fifi menjelaskan dengan rinci tentang turunan, ia mulai menghitung dan menggerakan spidol di atas whiteboard.



            V (t=2) lim f (2+h) – f (2) lim 4 (2+h) – 5 } - { 4 (2) – 5 }

                        H  O            H                                      H

            Lim 4h = lim 4 = 4

            H o   h       h o

            Jadi, kecepatan sesaat pada waktu t=2 detik adalah 4 m / detik



            “Udah Bu…………….. ” Rasti meletakan kembali spidol di meja guru dan kembali ke tempat duduknya sambil tersenyum puas penuh kemenangan..



*****



Tet……… tet……….. tet…………

Sudah yang sekian kali klakson dibunyikan, wajahnya nampak cemas, ia merasa tidak nyama, sesekali ia melirik ke arah jam yang ada di ponselnyal.

            “3 jam……… ” desahnya, menyadari berapa lama ia terjebak dalam kemacetan.

            “Fi………… ” ia mengambil foto yang ia temukan di sebuah kaotak usang dalam ruang bawah tanah.

            “Aku minta maaf Fi, akan ku tepati janji yang sempet ke tunda dan kita mulai kembali persahabatan ” bisik hatinya sambil meletakan bingkai itu di dadanya.

Tet……….. tet…….. tet……….

Terdengar suara klakson olehnya bertanda ia harus kembali melajukan mobilnya.

            “Alhamdulillah………. “desahnya, ketika semua menjadi nampak seperti semula, ia melanjutkan perjalanannya mengarumgi jalan yang panas dan debu yang menyelimuti keadaan, ia menyalakan tape untuk mengusir kejenuhan.



            Biarkan saja kekasihmu pergi……….

            Teruskan sajan mimpi yang tertunda………..

            Kita temukan tempat yang layak……..

            Sahabatku……….

            Kupercayakan langkahkun bersamamu………

            Tak ku ragukan…….

            Berbagi dengan mu……

            Kita temukan tempat yang layak……..

            Sahabatku…..

            Kita mencari…

            Jati diri…….

            Lewat lautan mimpi……..

            Kita bernyanyi untuk sahabat…..

            Kita bisa……….

            Jika bersama………



Terdengar olehnya lagu sahabat yang di nyanyikan oleh Audy dan Nindy, Pipit tersenyum betapa ia menyadari semua yang kesalahan yang ia perbuat hanya demi cinta yang karena nafsu itu ia rela mengorbankan sahabat kecilnya dan hampir membunuhnya, tak ia sadari rintikan air matanya membasahi pipinya.

            “Aku akan lupain kamu Fadil, meski sakit untuk ku tapi aku harus lupain kamu dan memperbaiki kembali persahabatan aku dan Fifi yang hampir hancur ” bisik hatinya penuh semangat, Pipit menyadari betapa besar pengorbanan Fifi untuknya demi meraih cinta Fadil dan kini ia mencelakainya.

Dret…….. dret……. dret……….

Pipit mengambil ponselnya dan membaca pesan di dalamnya.



            From Fadil

                Lama amat……..

                Loe mau Fifi bgn tag sicg……….

                Cptn yua………



Dan Pipit kembali membalasnya.



            From Pipit

            Yach Fad…..

                Ue……… serius koq gy d jlan td mcet bgt……

                Tp sxrng dch gg…….

                Bentr lg Ue sampe….

                Tunggu aj………….



Pipit kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.



*****



            “kangen juga nih sama si Fifi “

            “Yupz….. bener banget……..”sela didot di tenga geng blukutuk yang lagi ngegosip di kantin.

            “Sakit apa yach…….. ? ” tanya Xela sambil meminum kopi miliknya.

            “Ya……. ampun kemana aja loe xel…….. si Fifi tuh koma gak bangun sampe sekarang ” jawab si biang gosip yang penuh ambisi.

            “Kasian………. ” sela Didot

            “Iye die kan pabrik contekan gw, gak ada dia tiap hari gw di jemur gara-gara gak ngerjain PR “

            “Alah……. itu loe yang tolol “Miranda memukul punggung Delisa.

            “Tapi gw seneng juga sich……. si Fadil jadi gampang di dapetin ” Tania memoles mukanya yang tampak kusam.

            “Ih…… mimpi dech !! masih ada Angle kalie……. “

            “Bener !! loe sama Angle 90 ama 30an mana mau Fadil sama yang 30an “

            “MmMmm…… ” Tania berakting sedih layaknya artis yang sedang menangis dalam sinetron telenovela.

            “Udah-udah yach……… loe pasti bisa “Xela merangkul dan membelai rambutnya.

            “Angle ?? bukan Angle kalie Pipit !! ” bigos angkat bicara sambil melahap makanannya.

            “Pipit,,,,,,,,,, ?? ” tanya merka serempak.

            “Yupz……. “

            “Kok loe bisa tau “

            “Yah…… belom tau….. belom tau dia “

            “Duh please deh Xel Mirabda itu biang gosip, gosip dari burung beonya pak karim sampe istri kelima kepsek……… dia pasti tau ” jelas Tania terus memoles wajahnya,

            “Eh…….. eh…….. ” aba-aba Didot serentak, suasana pun menjadi sepi dan menunggu aba-aba Didot.

            “Satu………… Dua….. ” Didot mulai memberikan hitungannya bertanda aba-aba dengan wajah geli dan menahan tawa, tiba tiba.

Dutth………

Suara bom alam meledak memenuhi di dalam kantin, membuat orang yang ada di dalamnya pergi dengan seketika mencari udara segar, sementara Didot hanya tertawa.

            “He…….. he…….. obat pengusir manusuia “



*****



Kring………..

Bel kembali berbunyi menandakan waktu istirahat tela usai, semua siswa kelas XII IPAA pun memasuki kelas mereka dan mulai mengisi bangku – bangku kosong, namun kali ini Rasti tampak tak bersemangat pikiranya melayang, ia berjalan di lorong sendirin, hingga ia sadari hanya ia sendiri yang belum memasuki kelas, karena itu ia mempercepat langkahnya dan berharap Dewi Fortuna masih bersamanya.

Deg….. deg…….. deg……..

Jantungnya berdetak semakin cepat wajahnya begitu pucat ia nampak kahwatir, mperlahan ia membuka pintu kelasnya sambil memejamkan matanya.

Krekh……….. pintu terbuka ia membuka matanya.

            “alhamdulillah……… ” ia tersenyum bahagia ia mengusap dadanya.

            “Upsz…… siapa yang duduk di bangku gw ? ” bisik hatinya sambil berjalan ke arah tempat duduknya yang berada paling belakang.

            “Aneh……… !! ” pikirnya melihat teman sekelasnya terdiam, hanya Didot yang tampak cengengesan sambil melirik ke arahnya.

Deg……….deg……… deg…….. jantung kembali berdetak kembali tak normal, wajahnya semakin pucat dan keringat dingin mengalir deras di tubuhnya.

            “Ma…….ma……maaf ” Rasti gugup menyadari yang duduk di bangkunya adalah pak Karim.

            “Rasti………… !! ” bentak pak Karim sambil meletakan tangannya di pinggang.

            “Eu…eu….pak !” Rasti mencoba bernegosiasi.

            “Kamu ???”

            “Mmm………….”

            “Keluar! Kamu telah nolkoma satu menit ” bentak pak Karim sambil manunjuk ke arah pintu.

            “Iii….pak tadi tuch saya kepeleset” jelas Rasti

            “Masa bodoh, kamu tau perjanjian kita tempo dulu… “

            “Tau…..eh….lupa pak”

            “Siapapun yang telat dalam pelajaran saya tidak akan diizinkan unntuk masuk pelajaran untuk selama-lamanya………….kecuali….”

            “Ke………..ke…………kecuali apa pak?”

            “Kecuali kamu bisa mengerjakan soal dari saya ”

            “Apa?? So…..soal??? ”

            “Mau tidak? Kalau todak silahkan keluar dari pelajaran saya ”  

            “……………………….” Rasti mencoba untuk berfikir.

            “Ini soal tebakan kok”

            “I…..iya dech pak ” Rasti menyetujui tantangan pak Karim.

Pak Karim segera berdiri dan  mempersilakan Rasti untuk duduk di tempatnya, sementara pak Karim menulis sesuatu diatas kertas dan menyerahkannya pada Amelia. Kemudian menuliskannya diatas white board.



10

1   ?   5

6



                                    Ket:jumlah Vertikal = 17

                                      Jumlah Horisontal = 4

            “Saya telah memberikan kertas pada Amelia. Dalam kertas itu terdapat tulisan yang sama dengan ini, akan tetapi dilengkapi dengan angka tengah. Yang saya ubah menjadi tanda tanya, sekarang saya minta kamub menebak angka yang berada ditengah itu.” Jelas pak Karim.

Rasti diam tak berbicara, ia terus memandang ke arah white board. Ia pernah di beri tebakan seperti ini oleh Fadil tetapi ia lupa untuk menemukan nilai tengah tersebu. Sejenak ia mememjamkan matanya.

            “Nilai tengahnya satu pak ! ”

Jawab Rasti setelah menggunakan satu lembar penuh kertas kosong untuk menghitung. Spontan Amelia pun segera membuka lilitan kertas yang diberi oleh pak Karim kepadanya.

            “Bener !!”

 Teriak Amelia tak percaya, disusul dengan tepuk tangan yang meriah. Pak Karim pun sontak percaya. Beliau pun berjalan menghampiri Rasti.

            “Kalo gitu bisa kamu jelaskan mengapa kamu bisa menemmukan angka tengah itu…..”

            “Mmm….jadi gini, jumlah dari nilai horisantal dan vertikal dijumlahkan “
Ia berjalan menuju white board dan menuliskan angka-angka tersebut.



17

      4   +

21

            “Hasilnya dua puluh satu, lalu hitunglah keliling angka-angka tersebut ” lanjutnya sambil menuliskannya kembali di white board.



10

1    ?    2

6



                                    keliling =10 + 2 + 6 +1

                                                 = 19

            “Hasilnya 19, nah……… hasil penjumlahan antara nilai horizontal dan vertikal di kurangi keliling angka tersebut ” Rasti meneruskan hitungannya.

                       

                        21

19   

  2



            “Hasilnya di bagi dua dech……. ” jawab Rasti dengan bangga.

            “Gw bersyukur punya temen kayak Fifi dan Fadil ” bisik hatinya , sementara pak Karim tak mampu berkata apa-apa, sebenarnya pak Karim pernah di beri tebakan seperti itu oleh Fadil namun pak Karim tak mampu menjawab, oleh karena itu iua sangat bangga denagan Rasti dan mempersilakannya untuk duduk di tempatnya.



*****



            “Ih lama amat sich……….. ” gerutu Pipit sambil memangdangi matahari yang makin meninggi, ia tampak bosan dan tak sabar untuk bertemu dengan Fifi.

            “Gw turun aja kali yach………. ” ia berbicara pada dirinya sendiri melihat panjangnya kemacetan yang ia alami, kali ini udara sangat panas, matahari telah pada puncaknya seolah tertawa melihat yang ada di bawahnya, yang tak mampu membuka matanya karena silau cahaya merahnya, tak lama kemudian ia mulai membuka pinti mobilnya, dirasakannya udara panas yang bagaikan menampar wajahnya, namun ia terus melanjutkan langkahnya.

            “Duh !! kepala gw pusing ” bisik hatinya, tak lam keudian semua tersa gelap.

            “Pit…….. ” Fifi menyentuh punggungnya.

            “Fifi….. ?? ” Pipit terdiam penuh tanya melihat Fifi yang begitu cantik dengan gaunnya yang menawan.

            “Kita di mana……. ? ” tanya Pipit melihat semua yang ada di sekelilingnya terlihat olehnya padang rumput yang luas dengan bunga yangb bermekaran indah dan sungai yang mengalir deras di hadapannya.

            “Ini tempat tinggal ku yang baru ” jawabnya.

            “Aku kangen kamu Fi……… “

            “Aku juga……… “

            “Maafin aku Fi……… ” Pipit terisak dalam pelukan Fifi, Fifi tersenyum sambil membelai punggungnya.

            “Tapi aku harus pergi “

            “Pergi ?? kau ikut !! “

            “Belum saatnya Pit……. ” Fifi kembali tersenyum melpaskan pelukannya.

            “Fi….. jangan pergi………. “

            “Jangan pergi………… “



Uhuk………..uhuk………huk………

            “Akhirnya non sadar juga “bi Inem lansung nmenyodrkan air putih, tanpa pikir panjang Pipit langsung meminim air itu.

            “Non Pingsan…….. “bi Inem mengusap keringat dingin di kening Pipit.

            “Saya di mana bi ?? “

            “Non di rumah………. maren lusa non di temuin pingsan di pinggir jalan ” tambah bi Inem sambil membantu Pipit untuk duduk.

            “Jam berapa Bi……… “

            “Setengah tujuh non “

mendengar jawaban bi Inem Pipit segera bangkit dari tempat tidurnya dan langsung bersiap untuk berangkat ke sekolah.

            “Mau ke mana non ? “

            “Sekolah !! Oiiia…… bilangin Bejo anterin saya ke sekolah.

            “I…….. i…. iya non “

Pipit tetap berdiri di depan rumahnya tak lam kemudian Bejo dan mobilnya muncul di hadapannya, Bejo membuka pintu belakang mobil itu sambil menundukan kepalanya dengan santun, Pipit segera masuk kedalamnya dan menunggu dengan tenang.

            “Silakan sudah sampai non………. ” Bejo membukakan pintu belakang dan lagi-lagi sambil menundukan kepalanya, Pipit segera pergi menuju kelasnya dengan baju seragam ala muslimah.

            “Kok sepi………… “

bisik hatinya melihat keadaan kelasnya yang kosong tanpa satu orang pun di dalamnya, kecuali dirinya sendiri…….., ia melirik jam yang berada pada ponselnya.

            “Jam tujuh, seharusnya sudah banyak yang datang “

ia berkata pada dirinya sendiri, ia mengalihkan pandangannya pada lapangan di depan kelas terlihat olehnya Pak Karim berlari dengan tergesa-gesa.

            “Kenapa sich ? semua orang aneh “

bisik hatinya sambil melangkahkan kakinya keluar kelas.

            Ia terus melangkah melewati beberapa kelas dan lapangan yang cukup luas, tak lama berjalan ia sudah berada di depan gerbang, udara dingin dan kicauan burung membuatnya semakin nyaman, dan kilau keemasan terbitnya matahari yang semakin mempesona. Tak lama menunggu mobil taksi yang sedang ia nantikan sudah terparkir dihadapannya. Mobil melaju dengan kencang memburu suatu yang telah dilekatkan pada memorinya, Pipit terduduk santai sambil mendengarkan beberapa lagu dalam    i-potnnya sesekali ia mengikuti lagu itu dengan suara rendah. Ia memejamkan matanya mencoba menjernihkan fikirannya dan berusaha menafsirkan mimpi yang baru saja ia alami.

            “Drrrt…….drrrt………. “

ia mengalihkan pandangannya pada ponsel yang berada di dalam tas Shopie Martin berwarna coklat metalic.

            -Massage Receive-

ia mengerutkan keningnya dan menggerakkan jari-jari lentiknya untuk membaca pesan itu.



            Fadil

                Pit ? Fifi dah sadar !



            “Alhamdulillah……… “

ia mengusap dadanya sambil memejamkan matanya dengan wajah yang bahagia.

            “Pak…..Pak…. tolong puter balik ke rumah sakit…… “

Wanita itu menepuk bahu supir taxi seraya memerintahkannya untuk balik arah menuju rumah sakit. Supir itu pun segera memutar balik arah dengan kecepatan penuh. Namun supir itu salah memperkirakan tikungan yang akan ia lewati, hingga ia tak menyadari sebuah mobil Limousine hitam sedang melaju dengan kecepatan tinggi.

Bruakkt…… nyriet………tet….t….

Tabrakkan pun tak terelakkan lagi, mobil taksi yang ditumpangi oleh Pipit terhempas tujuh meter dari lokasi kejadian. Sementara mobil Limousine hitam yag tampak mewah itu terbalik dan tak lama kemudian terdengar suara ledakan yang sangat dasyat yang disusul percikan api. Dari kejauhan terlihat aparat kepolisian yang disusul dengan mobil ambulance dengan alat-alat medisnya menuju lokasi kejadian.

            “Massya Allah…….!! ” seorang polisi dengan postur tubuh yang atletis terkejut melihat Pipit dengan kepala keluar dari jendela mobil dan bagian tubuhnya masih berada di dalam berlumuran darah. Polisi itu terus memperhatikan tubuh yang terkulai lemas tak berdaya. Perlahan ia melihat Pipit menggerakkan kepalanya rapuh…..

            “Dok…….. gadis ini masih bernyawa ” teriak polisi itu kepada para medis yang sedang mengefakuasi tempat kejadian. Para medis itu pun dengan cepat memboyong tubuh rapuh berlumuran darah itu ke dalam ambulance dan membawanya ke rumah sakit. Sementara supir dan korban lainnya tewas seketika di tempat kejadian.

            Setibanya di rumah sakit gadis itu langsung dilarikan ke ruang gawat darurat yang berada tak jauh dari ruangan di mana Fifi dirawat.

            “Gawat dok semua unit gawat darurat penuh ! ” Seorang suster memberitahukan kepada dokter yang sedang berjalan dengan cepat.

            “Kamar lainnya ? ” tanya dokter itu cemas

            “Penuh juga dok ! Cuma satu kamar yang berisi satu pasien, mungkin disana bisa kita pergunakan ” jelas suster itu penuh ambisi

            “Dimana itu ? “

            “Ruangan no enam lantai dua “

            “Ok ! sekarang kita bawa pasien ini kesana ” jelas dokter itu segera menuju ruangan no enam yang berada di lantai dua.

            “Ada apa ini ? “

tanya Fadil terkejut melihat seorang dokter dan para suster yang masuk secara tiba-tiba.

“Maaf, ada pasien kecelakaan tapi semua ruangan sudah penuh jadi untuk sementara pasien ini akan di tempatkan disini ” jelas salah seorang suster dengan ramah. Fadil mengamati pasien tak berdaya itu

            “Pi…Pi…Pipit !!! “

Fifi terkejut ketika menolehkan wajahnya kepada korban kecelakaan tersebut dan melihat tangan berlumuran darah yang terkulai lemas sambil memegang sebuah kalung yang sangat lekat di memorinya. Fadil tercekat tak lama kemudian ia menyadari bahwa korban kecelakaan itu adalah Pipit. Sontak Rasti, Fadil, dan Fifi mengalihkan perhatian mereka terhadap Pipit. Dokter dan para suster terlihat sangat sibuk mempersiapkan alat-alat medis, tak disadari Fifi menitikan air matanya…..

            “Sahabatku….. Pipit telah kembali ia memakai jilbab ” bisik hatinyatak henti memandangnya.

            “Tapi kini ia sama seperti aku “

tambahnya tak kuasa menahan tangis. Ia terkulai di astas ranjang dengan selang infus yang terus melekat di tangannya.

            “Fi…. loe jangan sedih “

Rasti mengusap rintik air mata di wajahnya. Ia menggelengkan kepalanya tak berkata sedikit pun.



*****



            “Pasien ini tak bisa diselamatkan lagi “

Fifi mendengar suara seorang laki-laki dewasa dalam setengah sadarnya. Perlahan ia membuka matanya terlihat olehnya seorang dokter dan seorang ibu berpakaian glamor yang beegitu dikenalnya.

            “Tante Marni……. “

bisiknya dalam hati dan terus memerhatikan kedua orang tersebut.

            “Maksud dokter ??? ” wanita itu histeris tanpa harapan.

            “Jantungnya sangat lemah “

            “Menurut penelitian, anak itu hanya bertahan sampai akhir minggu ini “

jelas dokter sambil menunjukkan beberapa lembar kertas yang ia genggam.

            “Dok……selamatkan anak saya, jangan biarkan ia pergi meninggalkan saya, cukup….Ayahnya telah pergi…..jangan biarkan ia pula pergi dok…….tolong anak saya dok…… “

tangis wanita itu histeris tak mampu menahan kesedihannya, sementara dokter itu terdiam seolah berusaha untuk mencari pemecahan permasalahan tersebut.

            “Ada satu cara….. ” jawab dokter itu tegas sambil memandangi Pipit yang terkulai lemas dengan alat medis yang terpasang di tubuhnya.

            “Apa dok ?? apa ? ” tanya marni penuh ambisi sambil mengguncangkan tubuh dokter itu laksana orang yang akan di rampok tasnya dan meminta pertolongan.

            “Jantung………. ” jawab dokter itu dengan penuh percaya diri.

            “Ambil dok !! ambil saja jantung saya !!! “

            “Apakah ibu tega ? jika sembuh nanti anak ibu harus kehilangan ibunya yang meninggalkannya karena harus mendonorkan jantungnya padanya, dan pasti anak ibu akan merasa bersalah jika ia tau tentang hal itu, apakah ibu tega jika nanti anak ibu harus hidup sebatang kara di dunia ? ” jelas sang dokter menghalangi niat marni mendonorkan jantungtnya.

“Jadi saya harus bagaimana dok ? di mana saya harus menemukan jantung itu, saya tidak ingin jika ia harus meninggalkan saya sendiri ” tanya marni sambil menangis tersedu-sedu sambil menatap Angle sedalam-dalamnya marni berkata pada Angle yang belum sadarkan diri.

“Angle……. yang sabar ya nak……. “

Fifi yang menyaksikan hal itu hanya terdiam tak mempu berkata-kata, ia terus memandangi wajah pucat Pipit yang berada tak jauh darinya.

            “Ya Allah…….. berilah kesembuhan untuk sahabat kecil ku ini ” rintih dalam hati yang tak mampu menahan tangisnya, tak lama kemudian datanglah seorang suster dengan Fadil yang mengikutinya dari belakang.

            “Fi pa kabar…….. ? ” tanya Fadil ketika tiba di sebelah ranjang Fifi, ia pun tersemyum semu berusaha menutupi kesedihannya, Suster yang datang bersama Fadil pun langsung memeriksa keadaan Fifi.

            “Gimana keadaan Fifi Sus ? ” tanya Fadil.

            “Membaik ! mungkin dua atau tiga hari lagi dia sudah bisa kembali kerumah ” terang Suster sambil mengganti botol infus yang tak jauh darinya.

            “Alhamdulillah……… ” ucap Fadil tersenyum menatap Fifi bahagia, Fifi membalas senyuman itu dengan senyuman hangatnya, ia memalingkan wajahnya ke arah Pipit di sebelahnya di ikuti dengan Fadil.

            “Angle kini berubah Fi…….. dia sudah jadi Pipit lagi ” jelas Fadil sambil mengupas jeruk yang di genggamnya.

            “Tapi kenapa jadi begini dia kecelakaan saat di perjalanan menjenguk kamu ” Tambah Fadil, Fifi mengerutkan alisnya dan menatap Fadil tajam dan berharap Fadil melanjutkan ceritanya.

            “Mm………. ada yang kurang ? ” tanya Fadil, Fifi menggelengkan kepalanya, ia kembali menatap Pipit di sebelahnya dengan air mata yang tak dapat tertahan lagi.

            “Pit aku……. akan lakuin apapun biar kamu bisa cepet sembuh ” bisik hatinya.



*****



            Dibawah terangnya sinar bulan purnama, Fifi berkeliling dengan kursi rodanya di temani seorang Dokter dan Susternya yang membantu mendorongnyan, Fifi terdiam larut dalam pikirannya sendiri seolah bergelut dalam masalah yang tak habis habisnya di guncang sesuatu yang ia sendiri ia tak tahu harus berbuat apa.

            “Dok gimana keadaan pasien yang ada satu ruangan dengan saya ? ” tanya Fifi memecah kesunyian dalam dinginnya malam purnama.

            “Dia……. ” Dokter itu tak mampu melanjutkan kata-katanya.

            “Dia kenapa Dok !? ” desak Fifi yang terlihat ingin bangkit dari kursi rodanya.

            “Dia tak bisa di tolong lagi ” jelas doker menundukan kepalanya dengan nada suara rendah.

            “Buakankah masih bisa di tolong dengan cangkok jantung ” sela suster yang berjalan di sebelah dokter sambil mendorong kursi roda.

            “Iya !! tapi mana ada yang mau mendonorkan jantungnya yang sama dengan mendonorkan nyawanya ” tekas dokter itu tandas.

            “Aku bersedia…… “

            “Apa ??? ” berkata dokter terkejut dengan spontan katena ucapan Fifi.

            “Aku bersedia mendonorkan jantungku untuknya ” ualng Fifi sambil menatap indahnyasinar bulan pernama, wajahnya terlihat sangat indah terbias oleh cahaya bulan purnama yang berkilauan.

            “Dok saya minta besok pagi sudah bisa mencangkok jantung saya untuknya ” tambah Fifi.

            “Ta………. tapi anda yakin ingin mendonorkan jantung anda ” jelas Dokter.

            “Saya yakin Dok !! ” tegas Fifi meyakinkan

            “Itu akan membuat nyawa anda hilang ” tambah dokter menghalangi niat Fifi.

            “Walaupun saya akan kehilangan nyawa saya rela untuknya ” Jelas Fifi.

Pembicaraan berakhir dengan akan dilakukannya pencangkokan jantung Fifi.

            “Aku……. kangen kamu Pit………… ” bisik hatinya tak mampu menutupi kesedihannya dan rasa rindu sangat menggelora, meski hatinya sakit akan meninggalkan orang yang selalu menjadi kerinduan hari-harinya, orang yang begitu berarti dalam hidupnya dan menduduki singgasana tertinggi dalam istana hatinya, tapi ia tak mau sahabat kecilnya terus terbelenggu rasa sakitnya, ia terus menelusuri jalan setapak dengan kursi rodanya.

            Kolam kecil yang berda di rumah sakit itu tampak indah bermandikan cahaya bulan, ikan-ikan kecil pun terdiam seolah mangerti akan kegalauan yang di rasakan Fifi, malam pun semakin larut ia kembali menuju kamarnya hingga ia tenggelam dalam kesunyian malam.



******



            Keesokan harinya oprasi pencangkokan pun dimulai, dibantu dengan para dokter profesional.

            Fadil terdiam menatap kenyataan yang begitu pahit baginya, waktu terus berputar menit berganti menit, menit berganti jam namun oprasi itu belum usai pula di lakukan, rasa khawatir dan putus asa terus menggerogoti hati Fadil yang saat ini sedang galau. Pria kelahiran Skotlandia itu terus memandangi jari kakinya sendiri, sementara dua wanita itu duduk termangu tanpa kata-kata. Salah satu wanita yang berpakaian sederhana itu terus menangis mukanya merah dan matanya begitu lembab, sementara wanita yang tampak glamor itu kini bahagia tapi ia terus menitikan air matanya tak percaya.

Krekkh…………

Terdengar suara pintu yang di dorong oleh sang Dokter, sontak semua orang melihat ke arah pintu ruang dimana Fifi di operasi.

            “Gimana keadaannya Dok ?? ” tanya ibu Pipit dengan raut wajah yang sangat cemas kepada Dokter yang baru saja keluar dari ruangan oprerasi itu, namun Dokter itu hanya terdiam sambil mengelap keringat yang membasahi wajahnya, dan tak lama kemudian Dokter itu menatap ibu Pipit.

            “Operasi berhasil !! ” jelas Dokter dan lansung melangkahkan kakinya keluar dari suasan itu, ibu Pipit tersenyum terlintas di hatinya rasa bahagia yang amat sangat, ia menghampiri ibu Fifi yang duduk di sebelahnya, ia menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca, sejenak merka terjebak dalam tatapan itu langsung berpelukan.

            “Lama tak berjumpa…….. ” isak ibu Fifi.

            “Terima kasih banyak “

            “Atas apa…….. ? “

            “Pengorbanan mu “

            “Itu adadlah sebagian kecil nafas yang pernah kau berikan pada ku ”

            “Aku sangat iri dengan kebaikan dan ketabahan hatimu……. “

Fadil terus menatap kaca-kaca dengan penuh khayalan.

            “Kapan aku bisa menjenguk pasien itu Sus…… ? ” tanya Fadil pada Susuter yang baru saja keluar dari ruangan operasi bersama Dokter.

            “Mungkin untuk sementara pasien belum bisa di jenguk, karena memang belum sadar dan dalam proses penyesuaian dengan jantung yang baru ” Suster menjelaskan.

            “Berpa lam Sus….. ? “

            “Mungkin dalam dua hari ini dia sudah bisa pulang tapi itu pun jikalau kondisi pasien cepat membaik dan tak ada perubahan dalam penelitian ” jawab Suster itu dengan lugas.



******



Seminggu telah berlalu……….

Pipit masih terkulai lemas di atas tempat tidurnya, Fadil tampak tertidur di tepi ranjang, perlahan Pipit membuka matanya dan ia menyipitkan matanya yang tak terbiasa dengan silaunya cahaya yang ada di dalam ruangan, Fadil merasakan gerakan Pipit yang di sertai dengan membelai rambut Fadil.

            “Loe udah sadar……. ? ” tanya Fadil yang baru saja terbangun dari tidurnya, samar-samar Pipit mendengar suara dan sekali lagi ia mencoba untuk membuka matanya kembali, ia tak mampu memperjelas penglihatanya untuk beberapa saat ia terdiam mencoba untuk membiasakan matanya terhadap cahaya lampu dalam ruangan.

            “Dimana aku ?? ” bisik hatinya ketika melihat se-isi ruangan yang serba putih dan ia meluaskan pandangannya.

            “Fadil ?? ” ia bertanya melihat Fadil yang ada di tepi ranjangnya.

            “Loe di rumah sakit ” jelas Fadil.

            “Rumah sakit ?? ” Pipit mengulang bertanya kembali kepada Fadil.

            “Beberapa hari lalu loe kecelakaan……. ” jelas Fadil.

            “…………… ” ia tetap tak mengerti dan terus memandangi se-isi ruangan yang begitu asing baginya, ia memejamkan kembali matanya dan kembali terus mendobrak kembali ingatannya.

            “Fifi udah sembuh ?? ” tanya Pipit dengan penuh semangat ketika berhasil menyusun puing-puing ingatanny.

            “Fifi………. ” Fadil tak melanjutkan kata-katanya, pandangannya berubah jadi semu dan matanya berkaca-kaca.

            “Kenapa Fifi……… ? Fifi udah sembuh kan ? ” pipit mengulangi pertanyaannya.

            ” Fifi………. ” Fadil masih tak mampu mengatakan kenyataan yang pahit itu.

            “…………………. “

            “Fifi telah pergi………. ” jawab Fadil sambil memalingkan wajahnya berusaha menutupi rasa sedih dan kehilangannya.

            “Maksud loe……… ?? ” tanya Pipit tak memahami perkataan Fadil.

            “Loe kecelakaan Pit !! jantung loe lemah…….. dan harus di cangkok dengan jantung yang baru biar loe selamat ” Fadil menjelaskan kejadian yang terjadi.

            “…………………… “

            “Fifi tau tentang jantung loe yang lemah dan gak bisa selamat lagi kalo gak ada jantung yang baru, dan karena itu dia mutusin untuk ngedonorin jantungnya buat loe ” tambah Fadil singkat dan kembali menyembunyikan wajahnya dari Pipit.

Pipit tercekat ia tak mampu untuk berkata, perlahan derasnya aliran air matanya melintas di pipinya.

            “Fifi………… ” teriak Pipit mengisi ruangan.

            “Fi…………… “

            “Kenapa……….? “

            “Loe pergi……… “

            “Fifi……….. ”

Ia terus menangis meratapi kepergian sahabat kecilnya, betapa prihatinnya, ia menyesal dan merasa bersalah, ia telah melanggar janji abadinya, ia telah melupakan tali persahabatan dan sekarang ia telah merebut hidupnya, ia terus menangis tersedu-sedu dan terus berteriak, sementara Fadil sedang menenangkan hatinya yang sedang gundah.

            “Fifi……….. ”

            “Fi………….. “

            “Maafin aku……….. ” teriaknya hinga beberapa Suster dan Dokter memasuki ruangan itu.

******

Malam yang begitu sunyi dibawah bias cahaya rembulan yang malu-malu bersembunyi di balik awan terlihat seorang pria dan seorang wanita dengan kursi roda mengelilingi danau, kunang-kunang silih berganti mereka, wanita berjilbab putih itu tampak teduh dengan mata yang tampak berkaca-kaca memandang kilauan rembulan, pria itu tampak berdiri di belakangnya dengan matanya yang menerawang jauh kedepan dan wanita itu tampak mengepal sebuah kertas, perlahan ia membukannya penuh kesedihaan.



Dear sahabat ku…………



Aku terdiam dalam lamunan ku ini………..

Dalam sisa-sisa nafas ku ini…………

Ku kais-kais harapan hidupku…………..

Untuk menulis surat ini untuk mu……………..

Surat pengungkap rasa rindu ku pada mu……….

Pembawa separu jiwa ku……………

Untuk ku titipkan pada mu…………

Meski ini ambang dari hidup ku…………

Dan kau tahu saat kau baca surat ku……………

Ku tak lagi di samping mu………….

Tapi jangan takut…………….

Aku selalu bersama mu…………

Karena setiap detak jantung mu adalah nafas ku…………

Setiap aliran darah mu adalah separuh jiwa ku…………….

Kini aku ada dalam setiap denyut nadi mu……….

Karena itu………..

Jangan kau anggap aku pergi meninggalkan mu…………….

Wahai sahabat ku…………..

Dalam detik-detik terakhir ku ini…………………..

Ingin ku titipkan cinta ku…………….

Cinta yang terindah dalam hidup ku…………………

Cinta yang hanya untuk mu………………..

Cinta yang membuat hati ku berdesir-desir…………………

Cinta yang membuat rasa ini seakan terbang ke angkasa………………

Cinta yang hanya sekali ini………………

Karena itu………………

Jagalah cinta ku………………..

Aku msayang kamu……………….

Sahabat ku………………..



Suara tangis Pipit kini makin parau, meski kini ia bisa bernafas normal namun ia merasa tak lengkap tanpa kehadiran Fifi disampingnya, ia pun mendekap erat surat itu di dadanya dan menutup matanya seolah melihat wajah manis Fifi tersenyum sambil melambaikan tangan, perlahan ia membuka matanya dan terus mamandangi danau di malam hari dengan air matanya yang tak terhenti mengalir seraya berkata.

            “Ku nanti kau dalam setiap mimpi ku…………….. “

No comments: