Friday, 6 November 2026

Jebakan Jabatan Manager: Berawal Dari Niat Nyelametin Team Member, Berakhir di Neraka Jahanam Korporat (Part 1)



Dulu, waktu gue masih berstatus staf rendahan yang kuliah malam sambil bayar UKT pakai keringat sendiri, gue punya delusi klise: “Enak ya jadi Manager. Datang siang, pulang cepat, kerjaannya cuma tanda tangan berkas sambil ngopi.”

Gue mulai karier benar-benar dari minus. Gak punya koneksi orang dalam, gak ada mentor yang bisa dijadikan kompas. Semua trial, error, dan pusing kepala gue telan mentah-mentah sendiri. Sampai akhirnya titel itu berhasil gue raih: Manager.

Tapi realitanya? Bangsat. Delusi gue tamat seketika.

Menjadi manager ternyata bukan soal kekuasaan, melainkan double beban. Kalau lo perfeksionis, hidup lo kelar. Lo harus pasang badan memastikan kerjaan tim lo beres tanpa celah, sekaligus menahan diri agar gak menyenggol ego divisi lain. Capek fisik kalah telak sama capek mental.

Dan puncak petaka gue dimulai di tahun ketiga gue menjabat.

Di tahun ketiga itu, kebusukan birokrasi mulai terasa mencekik. Perusahaan doyan gonta-ganti regulasi semaunya. Korbannya? Salah satu anggota tim gue yang loyalitas kerjanya luar biasa, sudah mengabdi hampir 4 tahun tapi statusnya digantung tanpa kejelasan kartap (karyawan tetap).

Gue merasa bersalah setengah mati.

  • Di tahun pertama, kebodohan gue bikin dia luput: gue kira penyesuaian gaji saat perpanjang kontrak otomatis satu paket dengan kenaikan level. Gue salah besar, dan gue mengutuk diri gue karena kurang jeli mengamati birokrasi busuk ini.

  • Di tahun kedua, atasan cuma dapat jatah satu slot kartap—dan yang dipilih bukan orang gue.

  • Di tahun ketiga, dalih UU Cipta Kerja kembali dijadikan tameng perusahaan untuk menahan nasib team member gue.

Gue gak bisa tinggal diam. Gue hadap atasan, bernegosiasi habis-habisan demi nasib dia. Akhirnya sebuah penawaran keluar: sebuah challenge untuk memegang portofolio Account Receivable (AR) di entitas pialang asuransi.

Atasan gue bicara blak-blakan: "Gue gak happy sama performa tim sebelumnya. Kerjaan numpuk, pending di mana-mana, delay parah."

Mendengar itu, divisi Finance dan Accounting existing menatap gue dengan pandangan aneh—meremehkan, Menganggap kami orang gila yang cari mati. Gue menghitung di atas kertas: “500 Premium Note sebulan? Dibagi 30 hari, cuma sekitar 17 per hari. Masih masuk akal lah.”

Betapa naifnya hitungan matematika di atas meja kantor.

Kenyataan di lapangan langsung menampar gue telak.

Sebanyak 500 Premium Note itu bukan mengalir perlahan layaknya air keran tiap hari. Tim Business Development (BD) dan Marketing punya kebiasaan melempar pengajuan di hari-hari terakhir deadline closing. Bayangkan: 400 Premium Note tumpah ruah serentak dalam hitungan hari!

Gue dan satu team member gue pontang-panting, tidur 2–3 jam sehari, menahan perih di lambung dan mata berkunang-kunang demi membuktikan omongan kami bukan sekadar omong kosong. Target berhasil terkejar, sampai akhirnya bala bantuan tambahan datang. Tapi kami gak pernah tahu bahwa badai sesungguhnya baru saja dimulai.

Bencana itu bernama: Migrasi Sistem (Accurate ke Netsuite Oracle).

Januari 2026, pada momen Year-End Dinner yang seharusnya penuh selebrasi, suasana batin gue justru hancur. Tim gue dipaksa kerja dua kali lipat: menyelesaikan 70% data yang terlanjur diproses di Accurate, menginput ulang semua ke Netsuite, plus mengerjakan sisa load 30% yang tertinggal.

Di tengah meja makan, gue angkat suara memohon dispensasi:“tim saya sudah collapse dan kelelahan luar biasa. Bisa gak kita closing tetap pakai Accurate dulu, lalu migrasi angka ke Netsuite memakai neraca Januari?”

Respon mereka? Dingin. Diremehkan. Kepala divisi menganggap keluhan gue sekadar rengekan biasa.

Padahal konsultan sistem Netsuite sendiri bertindak amatiran: template Excel yang gue tagih berulang kali untuk cicil migrasi baru dilempar ke meja gue tanggal 27 Januari! Tiga hari sebelum tutup buku!

Belum reda rasa sesak di dada, terdengar celetukan sinis dari seorang wanita berlidah ular di seberang meja:

“Duh... Accounting gak bisa kerja nih kalau kalian belum selesai.”

Kalimat enteng yang membakar habis sisa kesabaran gue.

Gue sudah bicara ke SPV Accounting. Gue sudah jelaskan ke Manager AP. Gue utarakan ke Kepala Divisi. Hasilnya nihil: mereka gak mau tahu, telinga mereka tertutup tembok tebal birokrasi egois.

Sementara itu, tim BD terus meneror menuntut Premium Note terbit instan. Sistem baru Netsuite masih belum sempurna. Di tengah kepungan panik, rasa kantuk ekstrem, dan tuntutan menyelamatkan tim gue dari tudingan "tim lelet", otak gue mengambil keputusan nekat.

Prosedur standarnya: Approval AR -> Approval AP -> Premium Note Terbit.

Mengingat ucapan Kepala Divisi dulu bahwa tim lama lelet dan faktanya proses AP memang selalu jadi biang lambat, gue mengambil jalan pintas:

Gue BYPASS jalurnya. Approval AR langsung gue tembak terbit ke Premium Note tanpa menunggu approval AP.

Saat tombol enter ditekan, Premium Note memang meluncur bebas. Tapi gue gak sadar, tindakan penyelamatan sepihak itu justru meretas gerbang bencana paling mengerikan dalam karier gue.

Sebuah keputusan darurat yang dalam hitungan hari... resmi menyeret gue ke dalam api neraka jahanam korporat.


(Bersambung ke Part 2)

#CurhatBudakCorporate #ToxicWorkplaceID #KarierDariMinus #RealitaManager #SistemKantorToxic #CorporateLifeJakarta #DramaKantor #NetsuiteOracleDrama #KaryawanKontrak 

No comments:

Jebakan Jabatan Manager: Berawal Dari Niat Nyelametin Team Member, Berakhir di Neraka Jahanam Korporat (Part 1)

Dulu, waktu gue masih berstatus staf rendahan yang kuliah malam sambil bayar UKT pakai keringat sendiri, gue punya delusi klise: “Enak ya...